Saya termasuk penggemar cabai, dan cabai
biasa-biasa saja. Bisa secara sederhana, yaitu makan nasi dengan sesekali
menggigit dan mengunyah cabai. Bukan sekadar selera pribadi tetapi kebiasaan
semacam itu juga pernah dilakukan oleh ayah saya.
Ceritanya, suatu hari ayah saya pulang dari
tempat kerja sekitar pukul 13.30, dan bersiap untuk makan. Karena tidak ada
sambal, beliau bergegas ke samping rumah. Di situ terdapat tanaman cabai, dan
sedang matang buah-buahnya. Beliau memetik sebanyak tiga butir, meletakkan pada
mangkuk kecil berisi air, sebentar mencuci, lalu makanlah beliau dengan asyik.
Hal-hal lain berhubungan dengan makan dengan selingan
cabai secara sederhana adalah ketika saya berada di Kupang, N.T.T., selama
sekian bulan. Seorang kawan makan nasi dengan selingan cabai dan sedikit garam,
atau istilahnya “garam-cabai”. Makannya dengan cara unik seperti masa kecil
saya makan, semisal jambu, dan mencocolnya pada garam-cabai tetapi cabai
digerus bersama garam. Sementara kawan saya itu mencocol cabai pada garam.
Berikutnya, sambal kecap. Kecap manis, bawang
merah, dan cabai. Bawang merah dan cabai diiris-iris, lalu dicampurkan dalam
kecam seukuran mangkuk kecil. Tentunya ini sudah tidak terlalu sederhana. Saya pun
menyukainya, terutama dengan irisan bawang yang bisa memberi kesan rasa
tersendiri.
Yang juga penting dalam menikmati mi instan
adalah dengan adanya irisan cabai. Aroma cabai yang muncul bersama kuah mi
instan sangat sensasional. Alangkah sedapnya!
Begitulah mudahnya. Selera makan dengan adanya
cabai, nikmat sekali. Cukup tiga butir, saya sudah menikmati makanan saya
dengan penuh ucapan syukur.
Yang tidak kalah mudah, sebenarnya, adalah
menanam cabai. Satu butir cabai memiliki biji lebih dari sepuluh butir. Cabai matang,
semisal merah, bisa secara mudah dikembangbiakkan. Medianya tidak perlu seluas
satu hektar. Pokoknya mudah deh.
Di rumah saya pun tanaman cabai mudah ditemui,
khususnya di halaman depan. Kalau sedang berselera tinggi pada cabai, saya bisa
mendapatkan cabai segar. Intinya, secara pribadi, saya tidak kerepotan
mendapatkan cabai ketika hendak makan dengan sensasi pedasnya cabai.
Berkaitan dengan cabai, minggu pertama tahun
baru sebagian orang Indonesia mendapat kado yang cukup pedas, yaitu harga cabai
yang melejit. Dalam Kompas* tertulis berita, “Di
Kalimantan itu sudah Rp 150.000 per kilogram (kg), di Jawa Barat yang sentra
cabai saja harganya sudah di atas Rp 100.000 per kg. Kalau di DKI Jakarta
memang masih di kisaran Rp 100.000 sampai Rp 110.000 per kg.” Hal tersebut
disampaikan oleh Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi)
Abdullah Mansuri.
Menurut berita Kompas TV**,
“Pertama kali di Indonesia, harga cabai menembus rekor tertinggi yaitu Rp
250.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit tiung terjadi di Pasar Induk
Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Biasanya harga cabai berkisar Rp 30.000-Rp
50.000 per kilogram. Pedagang menduga cuaca buruk sebabkan petani cabai gagal
panen.”
Berita yang, menurut saya pribadi, sangat
ironis, mengingat Kalimantan Timur bukanlah suatu provinsi terpadat di
Indonesia. Juga, seperti yang sudah saya singgung, menanam cabai itu sangat
mudah. Tetapi mengapa bisa begitu?
Mungkin harus dibedakan antara kebutuhan
cabai dalam satu rumah tangga dan dalam satu kepentingan bisnis, semisal bisnis
kuliner. Kalau para pebisnis kuliner, minimal pedagang gorengan, seketika merasa
betapa pedas harga cabai, itu wajar-wajar saja.
Tetapi, kalau hanya seorang ibu rumah
tangga yang membutuhkan capai untuk pelengkap makanan di rumah, sungguh sangat
tidak wajar. Apakah sebenarnya situasi ini justru mengungkapkan kemalasan
orang-orang menanam cabai?
Sudahlah, tidak perlu repot soal kemalasan
siapa, bahkan menyalahkan pemerintah, lalu pemerintah menyalahkan cuaca. Siapa
menyalahkan siapa, begitulah intinya. Tidak siapa pun sudi mengakui kesalahan.
Dan, kalau selalu menyalahkan, mana solusinya?
Nah, saya memberi solusi sederhana saja. Manfaatkan
sedikit lahan di rumah untuk menanam cabai. Cabai pun bisa ditanam dalam pot.
Pengelolaannya tidak perlu dengan mesin pembajak seperti di kawasan persawahan.
Tidak perlu berkarung-karung pupuk. Tidak perlu repot dengan semprotan obat
anti-hama.
Sederhana, dan mudah, ‘kan?
*******
Panggung Renung Balikpapan,
6 Januari 2017
*) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/05/073100526/harga.cabai.meroket.ratusan.ribu.per.kg.kado.pahit.di.awal.2017.
**) http://tv.kompas.com/read/2017/01/04/5270020183001/harga.cabai.tembus.rekor.rp.250.ribu.per.kilogram
Tidak ada komentar:
Posting Komentar