Jumat, 06 Januari 2017

Pedasnya Kado Awal Tahun Baru

Saya termasuk penggemar cabai, dan cabai biasa-biasa saja. Bisa secara sederhana, yaitu makan nasi dengan sesekali menggigit dan mengunyah cabai. Bukan sekadar selera pribadi tetapi kebiasaan semacam itu juga pernah dilakukan oleh ayah saya.

Ceritanya, suatu hari ayah saya pulang dari tempat kerja sekitar pukul 13.30, dan bersiap untuk makan. Karena tidak ada sambal, beliau bergegas ke samping rumah. Di situ terdapat tanaman cabai, dan sedang matang buah-buahnya. Beliau memetik sebanyak tiga butir, meletakkan pada mangkuk kecil berisi air, sebentar mencuci, lalu makanlah beliau dengan asyik.

Hal-hal lain berhubungan dengan makan dengan selingan cabai secara sederhana adalah ketika saya berada di Kupang, N.T.T., selama sekian bulan. Seorang kawan makan nasi dengan selingan cabai dan sedikit garam, atau istilahnya “garam-cabai”. Makannya dengan cara unik seperti masa kecil saya makan, semisal jambu, dan mencocolnya pada garam-cabai tetapi cabai digerus bersama garam. Sementara kawan saya itu mencocol cabai pada garam.

Berikutnya, sambal kecap. Kecap manis, bawang merah, dan cabai. Bawang merah dan cabai diiris-iris, lalu dicampurkan dalam kecam seukuran mangkuk kecil. Tentunya ini sudah tidak terlalu sederhana. Saya pun menyukainya, terutama dengan irisan bawang yang bisa memberi kesan rasa tersendiri.

Yang juga penting dalam menikmati mi instan adalah dengan adanya irisan cabai. Aroma cabai yang muncul bersama kuah mi instan sangat sensasional. Alangkah sedapnya!

Begitulah mudahnya. Selera makan dengan adanya cabai, nikmat sekali. Cukup tiga butir, saya sudah menikmati makanan saya dengan penuh ucapan syukur.

Yang tidak kalah mudah, sebenarnya, adalah menanam cabai. Satu butir cabai memiliki biji lebih dari sepuluh butir. Cabai matang, semisal merah, bisa secara mudah dikembangbiakkan. Medianya tidak perlu seluas satu hektar. Pokoknya mudah deh.

Di rumah saya pun tanaman cabai mudah ditemui, khususnya di halaman depan. Kalau sedang berselera tinggi pada cabai, saya bisa mendapatkan cabai segar. Intinya, secara pribadi, saya tidak kerepotan mendapatkan cabai ketika hendak makan dengan sensasi pedasnya cabai.

Berkaitan dengan cabai, minggu pertama tahun baru sebagian orang Indonesia mendapat kado yang cukup pedas, yaitu harga cabai yang melejit. Dalam Kompas* tertulis berita, “Di Kalimantan itu sudah Rp 150.000 per kilogram (kg), di Jawa Barat yang sentra cabai saja harganya sudah di atas Rp 100.000 per kg. Kalau di DKI Jakarta memang masih di kisaran Rp 100.000 sampai Rp 110.000 per kg.” Hal tersebut disampaikan oleh  Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri.

Menurut berita Kompas TV**, “Pertama kali di Indonesia, harga cabai menembus rekor tertinggi yaitu Rp 250.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit tiung terjadi di Pasar Induk Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Biasanya harga cabai berkisar Rp 30.000-Rp 50.000 per kilogram. Pedagang menduga cuaca buruk sebabkan petani cabai gagal panen.”
      
Berita yang, menurut saya pribadi, sangat ironis, mengingat Kalimantan Timur bukanlah suatu provinsi terpadat di Indonesia. Juga, seperti yang sudah saya singgung, menanam cabai itu sangat mudah. Tetapi mengapa bisa begitu?

Mungkin harus dibedakan antara kebutuhan cabai dalam satu rumah tangga dan dalam satu kepentingan bisnis, semisal bisnis kuliner. Kalau para pebisnis kuliner, minimal pedagang gorengan, seketika merasa betapa pedas harga cabai, itu wajar-wajar saja.

Tetapi, kalau hanya seorang ibu rumah tangga yang membutuhkan capai untuk pelengkap makanan di rumah, sungguh sangat tidak wajar. Apakah sebenarnya situasi ini justru mengungkapkan kemalasan orang-orang menanam cabai?

Sudahlah, tidak perlu repot soal kemalasan siapa, bahkan menyalahkan pemerintah, lalu pemerintah menyalahkan cuaca. Siapa menyalahkan siapa, begitulah intinya. Tidak siapa pun sudi mengakui kesalahan. Dan, kalau selalu menyalahkan, mana solusinya?

Nah, saya memberi solusi sederhana saja. Manfaatkan sedikit lahan di rumah untuk menanam cabai. Cabai pun bisa ditanam dalam pot. Pengelolaannya tidak perlu dengan mesin pembajak seperti di kawasan persawahan. Tidak perlu berkarung-karung pupuk. Tidak perlu repot dengan semprotan obat anti-hama.  

Sederhana, dan mudah, ‘kan?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 6 Januari 2017

*) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/05/073100526/harga.cabai.meroket.ratusan.ribu.per.kg.kado.pahit.di.awal.2017.

**) http://tv.kompas.com/read/2017/01/04/5270020183001/harga.cabai.tembus.rekor.rp.250.ribu.per.kilogram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar