Sabtu, 29 April 2017

Bunga-bunga Ungkapan Rasa

(sumber foto : http://www.suara.com/news/2017/04/29/081100/fadli-zon-dapat-kiriman-bunga-pembalasan-dari-pendukung-ahok)

Ungkapan “katakan dengan bunga-bunga” (say with flowers) seringkali dikaitkan dengan suatu penyampaian rasa simpati atau suka terhadap siapa atau apa. Setangkai bunga, seringnya, ditujukan pada seseorang untuk menyatakan rasa suka, ikut berbahagia, dan seterusnya. Karangan bunga, tentunya, berbeda lagi, termasuk pembukaan suatu tempat usaha.

“Bunga-bunga selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna; bunga-bunga adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa,” tulis Robert Adhi (Kompas,26 April 2017), yang mengutip kalimat Luther Burbank. Tulisan tersebut berkaitan dengan banjir karangan bunga di Balaikota Jakarta yang tertuju kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Wakil Gubernur Djarot Hidayat dalam masa penghujung jabatan mereka pasca-kekalahan Pilkada 2017 putaran kedua.

Banjir karangan bunga. "Sampai pukul 14.20 WIB, karangan bunga yang kita terima sudah 4.206 buah," kata Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri, Mawardi kepada wartawan, Jumat (28/4/2017). Sebelumnya, pada 26 April, Mawardi menyebutkan angka sekitar 1.000.

Itu baru di Jakarta. Masih ada lagi yang jauh di luar Jakarta, meski jumlahnya tidaklah banyak. Dan itu merupakan suatu pengungkapan rasa yang luar biasa, dan memang di luar kebiasaan, jika dikaitkan dengan masa akhir jabatan beserta kekalahan yang pernah dialami gubernur sebelum-sebelumnya.

Setangkai bunga saja sudah terlihat indah, apalagi dirangkai dalam sebuah karangan, yang berdampak psikologis “selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna” dan berfilosofi “bunga-bunga adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa”. Terlebih jika bernilai sekian ratus ribu rupiah per karangan.

Tetapi, ternyata, sesuatu yang indah bagi seseorang tidaklah menjadi indah bagi orang lain. Rasa suka seseorang terhadap siapa tidaklah selalu berdampak suka bagi orang lain. Seorang pemuda memberi setangkai bunga mawar untuk seorang pemudi yang disukainya memang tidaklah selalu membuat pemuda-pemudi lainnya suka. Cemburu, iri hati, atau dengki, tentulah begitu sebab tidak sukanya.

"Saya rasa masyarakat sudah tahulah. Itu bisa bukan efek positif yang didapat, tapi efek negatif, apalagi kalau ketahuan sumbernya itu-itu juga. Jadi pencitraan murahan," kata Politikus Fadli Zon di gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017).

Efek negatif. Negatif, sepakat atau tidak, bukanlah suatu efek, dampak, atau hasil sampingan. Negatif sudah berasal dari dalam diri seseorang, meski sebenarnya lingkup wewenangnya jauh lebih luas (nasional) daripada secuil wilayah (regional).

Bunga yang indah bisa menjadi tidak indah bagi seseorang yang selalu menghidupkan sisi negatif hidupnya terhadap orang lain. Tentu berbeda apabila seseorang penghayat negatif tersebut mendapat karangan bunga bahkan ribuan dari para penyuka atau simpatisannya, ‘kan? Sayangnya jika seseorang tersebut adalah tokoh publik, yang disebut sebagian orang sebagai “tokoh panutan” (public figure). Apalagi, selama sekitar 2-3 tahun sebagian orang terdoktrin bahwa Ahok bermulut comberan, dan sangat tidak patut menjadi panutan sehingga Ahok kalah dalam pilkada kemarin.

Doktrin tentang bunga. Doktrin tentang suka. Doktrin tentang positif-negatif. Doktrin tentang tokoh atau pejabat publik. Doktrin tentang comberan. Dan doktrin-doktrin umum lainnya. Semuanya seringkali mendadak berhadapan dengan kebalikan dari doktrin umum. Buktinya apa, coba?

Pada 28 April sebuah karangan bunga masuk gedung DPR RI, bukan lagi Balaikota Jakarta. "Dear BP. Fadli Zon Mohon Titip Bunga Di sini yaa!! Karena Balaikota Sudah Penuh. Tim Pencitraan," demikian tulisan dalam papan bunga itu.

Ternyata “katakan dengan bunga” tidak bisa lagi mewakili satu ungkapan rasa, dan hanya terdaktrin pada satu nilai. Bukankah beginilah realitas hidup dengan rasa sering berbeda antarorang hingga sebagian orang pun sering pula mengungkap rasa dengan frasa “rasain lu!”?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 2017

Kamis, 27 April 2017

Seseorang adalah Prasangka

Seseorang memiliki potensi untuk berprasangka karena setiap orang (manusia) merupakan makhluk sosial (bergaul dengan orang lain). Berprasangka terhadap orang lain, sekelompok orang, bahkan, konyolnya, berprasangka terhadap dirinya sendiri.

Proses terbentuknya prasangka (prejudice) dapat terjadi ketika seseorang berada dalam suatu kelompok. Kelompok pertama adalah rumah, kedua adalah lingkungan luar rumah, dan seterusnya, yang kesemuanya di luar rumah, bahkan jauh entah di mana, karena perkembangan wilayah sosialnya.

Pengertian “prasangka” atau “purbasangka”–istilah ini sangat jarang dipakai, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah  pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak. Yang sering juga disebutkan dengan “syak wasangka”.

Kata “syak”, menurut KBBI, adalah rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). Sedangkan “wasangka”, masih KBBI, adalah kebimbangan hati; rasa khawatir; kecurigaan; syak; sangka.

Konon, istilah “prasangka” berasal dari istilah asing, prejudice. Pada awalnya istilah ini merupakan sikap rasisme, yang merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras, semisal kelompok tertentu.

Ras adalah kategori individu yang secara turun temurun memiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu. Pengertiannya tidak berkaitan dengan ciri sosiokultural, misalnya kebudayaan, adat, dan sejenisnya. Misalnya, jika menyebut ras Negro, berarti yang dimaksud bukan sifat kebudayaan kelompok tersebut seperti pandai bermain musik, melainkan ciri fisiknya, seperti warna kulitnya hitam atau bentuk rambutnya keriting.

Mengenai “prasangka”, “prasangka sosial”, dan seterusnya dapat dicari melalui mesin pencari semisal Google. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurai “prasangka” berdasarkan definisi para ahli seakan mengajari ikan hiu menyelam, melainkan sesuai dengan judul “seseorang adalah prasangka”.

Meski pengertian KBBI mengenai prasangka cenderung bersifat negatif (kurang baik) dari asal istilah prejudice, pengertian secara umum masih memberi tempat kepada sifat positif. Tentu saja hal ini dikembalikan pada asal kata “sangka”, yang menurut KBBI, adalah duga; kira; terka. Tetapi ketika kata “sangka” mendapat imbuhan, bisa berubah arti (makna; maksud), semisal “tersangka”, yang sudah menjadi negatif, dan masuk ranah hukum.

Prasangka negatif atau prasangka positif bisa serta-merta terjadi. Misalnya, ketika seseorang menerima amplop dari orang lain. Prasangka negatifnya berbunyi, “Seseorang disogok.” Prasangka positif berbunyi, “Seseorang mendapat surat penting.” Misalnya lagi, ketika seseorang menyanyi dengan suara merdu di kamar mandi. Prasangka negatifnya, “Seseorang sedang pamer suara merdunya.” Prasangka positifnya berbunyi, “Seseorang gemar menyanyi, dan tekun berlatih.”

Lantas, seseorang adalah prasangka, apa maksudnya?

Pertama, dalam status kemanusiaan (makhluk sosial), pemikiran seseorang sangat dipengaruhi bahkan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (bergaul). Pengaruh ini membuat seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain atau kelompok lain (di luar lingkup pergaulannya). Artinya, dalam diri seseorang sudah terdapat prasangka.

Kedua, seseorang mendapat prasangka dari orang lain ataupun kelompok lain. Apakah seseorang sedang terlihat secara fisik atau sedang terdengar karena menyanyi, bahkan malah sedang tidak terlihat atau terdengar pun, seseorang bisa mendapat prasangka dari orang lain atau kelompok lain.  

Ketiga, seseorang berprasangka terhadap dirinya sendiri. Ini yang juga sering terjadi, semisal ketika seorang diri di depan cermin, entah sedang bersiap untuk ke mana, entah pula baru pulang dari mana. Apa nanti prasangka orang lain, bagaimana nanti prasangka orang lain, mengapa ada prasangka ini-itu, dan seterusnya, merupakan prasangka yang lazim mengemuka pada dirinya sendiri.

Ketiga hal inilah yang selalu terjadi sehingga judul tulisan ini “Seseorang adalah Prasangka”. Apakah prasangka positif-negatif dari dirinya sendiri, pergaulannya (kelompoknya), orang lain, atau kelompok lain, siapa pun mengalaminya. Bahkan, setelah seseorang meninggal dunia sekalipun, prasangka justru tetap hidup.

Beginilah realitas sosial di dunia. Ketika seseorang masih berupa janin dalam kandungan, prasangka sudah lahir terlebih dulu melalui pendapat orang lain mengenai dirinya. Ketika lahir menjadi seseorang, prasangka berubah, baik berkurang maupun justru bertambah. Ketika meninggal dunia bahkan sekian waktu sesudahnya, seseorang masih bisa mendapat prasangka tambahan. Begitulah prasangka adanya.    
    

*******
Panggung Renung Balikpapan, 26 April 2017

Jumat, 21 April 2017

Sebab-Musabab Kekalahan Ahok

Saya senang Ahok akhirnya kalah dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua, 19 April. Senang karena sebelumnya kecewa, dan kekecewaan itu telah saya tuliskan dalam beberapa judul sampai saya mengatakan “maha benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”.

Memang, status saya adalah orang nun jauh di balik seberang entah mana yang kurang kerjaan untuk menyoroti Ibukota. Tetapi, ya, di situlah posisi saya yang subyektif-independen-sama sekali tidak memiliki kepentingan apa pun, termasuk mengenai Ahok dan kekalahannya.

Saya memiliki pendapat sendiri mengenai Ahok, yang akhirnya kalah, dan saya pun senang. Barangkali atau pasti Pembaca menghakimi saya begini-begitu bahwa saya telah menghakimi Ahok. Silakan saja; Pembaca bebas pula menghakimi saya.

Sebab utama-terutama kekalahan Ahok adalah angkuh-sombong-songong. Angkuh-sombong-songong?

Saya melihat Ahok memiliki kepercayaan diri (confidence) yang tinggi sekali. Mungkin karena ia bersih dari tindak korupsi yang merupakan tradisi negatif sebagian besar pejabat publik. Sejak menjadi bupati Belitung Timur, anggota DPR-RI, dan wakil gubernur bahkan gubernur menggantikan Jokowi yang naik jadi presiden, tidak mudah melibatkan Ahok dalam kasus-kasus berujung penjara bagi pihak-pihak terlibat. Kasus Sumber Waras pun tidak mampu menyeretnya sebagai tersangka, apalagi terpidana.

Di lain sisi, saya menganggap sikap percaya diri tersebut didukung oleh kemuakannya terhadap budaya buruk bernama korupsi sejak Ahok belumlah siapa-siapa. Praktik-praktik korupsi, diskriminasi, intimidasi, kemunafikan akut, dan sekitarnya merupakan pemandangan setiap hari dialami, barangkali.

Semua perilaku buruk nan busuk yang setiap hari tampil di hadapannya, tentu saja, sangat memuakkan. Saya pun muak tradisi busuk yang sangat lestari itu. Ketika Ahok mendapat kesempatan tampil secara konstitusional, baik ketika menjadi pejabat publik maupun wakil rakyat, di situlah kesempatannya untuk mengumbar hal-hal yang memuakkannya.

Prestasi-prestasi Ahok dalam perwujudan program-program ini-itu, dan terobosan-terobosan yang terbukti bisa dilihat hingga sebagian kaum marjinal benar-benar bisa mendapatkan sesuatu yang semestinya, sampai disambut hiruk-pikuk pujian se-Indonesia raya, merupakan unsur penting yang andil dalam peninggian rasa percaya diri Ahok yang justru menjadi bumerang yang mematikan. Mengapa? Semua itu cenderung membutakan-menulikan, dan melumpuhkan daya kritis yang sepadan. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna.  

Yang semakin meninggikan rasa percaya diri sekaligus pengumbaran segala kemuakan itu adalah kedekatannya dengan Jokowi, yang sedang menjadi pahlawan bagi sebagian rakyat Indonesia tertindas selama sekian puluh tahun. Waktu itu dia masih wakil gubernur, bisa dilindungi oleh atasannya (Jokowi), apalagi ketika Jokowi menjadi presiden.

Persoalannya, Ahok tidak belajar pada Jokowi mengenai pengendalian rasa percaya diri sekaligus kemuakan berlebihan, yang dalam hal ini melalui omongan. Atau, jauh sebelum bersama Jokowi di DKI Jakarta, Ahok tidak rajin membuka Amsal Salomo, padahal ia Kristen. Mungkin rajin tetapi tidak menghayatinya.

Kata orang, segala sesuatu  yang berlebihan tidaklah baik. Begitu juga dengan kepercayaan diri dicampur kemuakan yang berlebihan. Hal yang paling mudah terungkap adalah melalui omongan. Omongan atau mulut merupakan salah satu gerbang dari benteng jiwa seseorang.

Omongan Ahok sangat tidak terkontrol. Luapan percaya diri dan kemuakan berlebihan melepaskan kekang pada lidah-mulut-omongannya. Saya terlalu sering membaca dan mendengar melalui televisi dan internet tentang pernyataan Ahok yang selalu menanggapi segala sesuatu dengan selepas lidahnya, meskipun status sebagai pejabat publik haruslah lebih berhati-hati agar tidak membuat suasana semakin tidak terkendali.

Sekali lagi, pejabat publik. Bukan seorang nabi Perjanjian Baru, dan rakyat biasa semacam saya. Artinya, status sosial harus benar-benar dipahami ketika berhadapan dengan wartawan, elit-elit kelompok tertentu, dan rakyat biasa, sehingga pengontrolan (pengendalian) omongan menjadi sangat darurat dalam situasi yang sangat darurat pula (rival politik selalu menunggu kesempatan!).

Beberapa hal yang juga saya catat-tuliskan adalah mengenai reklamasi, meninggalkan TemanAhok, mulut comberan minta didoakan menjelang debat, hal memberi, dan lain-lain. Selain itu, yang tidak saya ulas adalah luapan kemarahannya terhadap beberapa orang tanpa memikirkan dampak baliknya, yang di kemudian hari dipajang oleh para pendukung rivalnya menjelang Pilkada 2017.

Yang turut menambah kisruh suasana adalah dukungan para pemujanya, yang seperti awal saya katakan “Maha benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”, dan saya justru dicaci-maki habis-habisan oleh mereka. Padahal saya, yang bukan siapa-siapa, bertujuan untuk mengingatkan Ahok, termasuk ketika saya memakai ucapan J. Kristiadi, “Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri.”

Ya, Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri. Sebagian pendukungnya yang memaki saya justru sebenarnya terlibat secara mutlak dalam kekalahan itu karena secara langsung mereka mendukung Ahok untuk semakin tidak mampu mengelola dirinya sebagai seorang pejabat publik yang sedang ditunggu kejatuhannya. Mereka pendukung abhkan sebagian pemilih emosional (salah tetap benar/dibenarkan), bukan rasional (kritis).

Melalui tulisan kesekian ini saya tidak sedang bermaksud mengajari Ahok seibarat mengajari buaya berenang di sungai, terlebih Ahok sudah mengalami kekalahan dalam Pilkada 2017. Saya tidak memiliki kepentingan apa-apa. Menang-kalah Ahok tidaklah menjadi apa-apa (material dan status sosial) bagi saya. Tetapi, sebenarnya Alkitab–kitab suci agama Ahok–sudah mengingatkan sejak jauh sekian abad silam.  

Pertama, Amsal-amsal Salomo.
a. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (10:19)
b. “Orang jahat terjerat oleh pelanggaran bibirnya, tetapi orang benar dapat keluar dari kesukaran.” (12:13)
c. “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya , siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (13:3) 
e. “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya , orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (17:27-28)
f. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (18:21)

Kedua, Kitab Yakobus.
a. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (1:26)
b. “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api ; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (3:2-13)

Ketiga, cerita Yohanes Pembaptis. Di hadapan beberapa orang Yohanes Pembaptis pernah menegur Herodes Antipas–penguasa ketika itu, “Tidak halal kamu mengambil istri saudaramu.” (Markus 6:18). Selain itu, Yohanes memberi tahu Herodes dengan sejujurnya. Juga menunjukkan kejahatan-kejahatan lainnya yang Herodes lakukan (Lukas 3:19-20).

Keempat, cerita Yesus Kristus. Yesus Kristus akhirnya disalibkan karena, terutama, dipidana telah menista ajaran Yahudi, yang salah satunya adalah menghujat Tuhan-nya Yahudi. Barangkali bisa dipahami pula bahwa Yesus Kristus ‘dikorbankan’ melalui persekongkolan elit agama, rakyat yang terhasut, dan penguasa pada saat itu.    

Keempat itu saja yang bisa saya uraikan, berkaitan dengan Ahok, dan kekalahannya dalam Pilkada 2017. Di luar itu, saya tidak berani mencurigai Ahok dengan hal-hal yang tidak pernah saya lihat (baca) dan dengar melalui media sebab kemungkinan kecurigaan saya keliru besar.   

Apa yang saya sampaikan ini bukanlah berarti saya lebih mampu menjaga perkataan atau lebih suci dalam perkataan dibandingkan Ahok. Saya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan Ahok. Saya hanya menyesalkan sikap Ahok yang berlebihan akibat keangkuhannya, dan, kemungkinan besar Ahok tidak mau menimbang-nimbang nasihat siapa pun. Hanya menjelang putaran kedua Pilkada 2017 barulah ia mulai berubah. Sungguh sangat terlambat, jika tujuan perubahan hanya demi Pilkada itu. Sebab, keangkuhan mendului kehancuran, dan tinggi hati mendului kejatuhan.

Akan tetapi, yang terpenting dari semua itu adalah takdir–kehendak Tuhan. Apa pun analisis dengan segala dalil, takdir paling berkuasa. Rencanamu bukan rencana-Ku. Jalanmu bukan jalan-Ku. Kekalahan bukanlah segalanya hingga hidup terasa kiamat. Saya percaya, Ahok justru akan mendapat posisi dan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya jika Ahok benar-benar menyadari siapa dirinya yang sejati sebab semua yang terjadi merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih-Penyayang.

*******
Panggung Renung Balikpapan, 21 April 2017