Jumat, 21 April 2017

Sebab-Musabab Kekalahan Ahok

Saya senang Ahok akhirnya kalah dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua, 19 April. Senang karena sebelumnya kecewa, dan kekecewaan itu telah saya tuliskan dalam beberapa judul sampai saya mengatakan “maha benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”.

Memang, status saya adalah orang nun jauh di balik seberang entah mana yang kurang kerjaan untuk menyoroti Ibukota. Tetapi, ya, di situlah posisi saya yang subyektif-independen-sama sekali tidak memiliki kepentingan apa pun, termasuk mengenai Ahok dan kekalahannya.

Saya memiliki pendapat sendiri mengenai Ahok, yang akhirnya kalah, dan saya pun senang. Barangkali atau pasti Pembaca menghakimi saya begini-begitu bahwa saya telah menghakimi Ahok. Silakan saja; Pembaca bebas pula menghakimi saya.

Sebab utama-terutama kekalahan Ahok adalah angkuh-sombong-songong. Angkuh-sombong-songong?

Saya melihat Ahok memiliki kepercayaan diri (confidence) yang tinggi sekali. Mungkin karena ia bersih dari tindak korupsi yang merupakan tradisi negatif sebagian besar pejabat publik. Sejak menjadi bupati Belitung Timur, anggota DPR-RI, dan wakil gubernur bahkan gubernur menggantikan Jokowi yang naik jadi presiden, tidak mudah melibatkan Ahok dalam kasus-kasus berujung penjara bagi pihak-pihak terlibat. Kasus Sumber Waras pun tidak mampu menyeretnya sebagai tersangka, apalagi terpidana.

Di lain sisi, saya menganggap sikap percaya diri tersebut didukung oleh kemuakannya terhadap budaya buruk bernama korupsi sejak Ahok belumlah siapa-siapa. Praktik-praktik korupsi, diskriminasi, intimidasi, kemunafikan akut, dan sekitarnya merupakan pemandangan setiap hari dialami, barangkali.

Semua perilaku buruk nan busuk yang setiap hari tampil di hadapannya, tentu saja, sangat memuakkan. Saya pun muak tradisi busuk yang sangat lestari itu. Ketika Ahok mendapat kesempatan tampil secara konstitusional, baik ketika menjadi pejabat publik maupun wakil rakyat, di situlah kesempatannya untuk mengumbar hal-hal yang memuakkannya.

Prestasi-prestasi Ahok dalam perwujudan program-program ini-itu, dan terobosan-terobosan yang terbukti bisa dilihat hingga sebagian kaum marjinal benar-benar bisa mendapatkan sesuatu yang semestinya, sampai disambut hiruk-pikuk pujian se-Indonesia raya, merupakan unsur penting yang andil dalam peninggian rasa percaya diri Ahok yang justru menjadi bumerang yang mematikan. Mengapa? Semua itu cenderung membutakan-menulikan, dan melumpuhkan daya kritis yang sepadan. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna.  

Yang semakin meninggikan rasa percaya diri sekaligus pengumbaran segala kemuakan itu adalah kedekatannya dengan Jokowi, yang sedang menjadi pahlawan bagi sebagian rakyat Indonesia tertindas selama sekian puluh tahun. Waktu itu dia masih wakil gubernur, bisa dilindungi oleh atasannya (Jokowi), apalagi ketika Jokowi menjadi presiden.

Persoalannya, Ahok tidak belajar pada Jokowi mengenai pengendalian rasa percaya diri sekaligus kemuakan berlebihan, yang dalam hal ini melalui omongan. Atau, jauh sebelum bersama Jokowi di DKI Jakarta, Ahok tidak rajin membuka Amsal Salomo, padahal ia Kristen. Mungkin rajin tetapi tidak menghayatinya.

Kata orang, segala sesuatu  yang berlebihan tidaklah baik. Begitu juga dengan kepercayaan diri dicampur kemuakan yang berlebihan. Hal yang paling mudah terungkap adalah melalui omongan. Omongan atau mulut merupakan salah satu gerbang dari benteng jiwa seseorang.

Omongan Ahok sangat tidak terkontrol. Luapan percaya diri dan kemuakan berlebihan melepaskan kekang pada lidah-mulut-omongannya. Saya terlalu sering membaca dan mendengar melalui televisi dan internet tentang pernyataan Ahok yang selalu menanggapi segala sesuatu dengan selepas lidahnya, meskipun status sebagai pejabat publik haruslah lebih berhati-hati agar tidak membuat suasana semakin tidak terkendali.

Sekali lagi, pejabat publik. Bukan seorang nabi Perjanjian Baru, dan rakyat biasa semacam saya. Artinya, status sosial harus benar-benar dipahami ketika berhadapan dengan wartawan, elit-elit kelompok tertentu, dan rakyat biasa, sehingga pengontrolan (pengendalian) omongan menjadi sangat darurat dalam situasi yang sangat darurat pula (rival politik selalu menunggu kesempatan!).

Beberapa hal yang juga saya catat-tuliskan adalah mengenai reklamasi, meninggalkan TemanAhok, mulut comberan minta didoakan menjelang debat, hal memberi, dan lain-lain. Selain itu, yang tidak saya ulas adalah luapan kemarahannya terhadap beberapa orang tanpa memikirkan dampak baliknya, yang di kemudian hari dipajang oleh para pendukung rivalnya menjelang Pilkada 2017.

Yang turut menambah kisruh suasana adalah dukungan para pemujanya, yang seperti awal saya katakan “Maha benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”, dan saya justru dicaci-maki habis-habisan oleh mereka. Padahal saya, yang bukan siapa-siapa, bertujuan untuk mengingatkan Ahok, termasuk ketika saya memakai ucapan J. Kristiadi, “Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri.”

Ya, Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri. Sebagian pendukungnya yang memaki saya justru sebenarnya terlibat secara mutlak dalam kekalahan itu karena secara langsung mereka mendukung Ahok untuk semakin tidak mampu mengelola dirinya sebagai seorang pejabat publik yang sedang ditunggu kejatuhannya. Mereka pendukung abhkan sebagian pemilih emosional (salah tetap benar/dibenarkan), bukan rasional (kritis).

Melalui tulisan kesekian ini saya tidak sedang bermaksud mengajari Ahok seibarat mengajari buaya berenang di sungai, terlebih Ahok sudah mengalami kekalahan dalam Pilkada 2017. Saya tidak memiliki kepentingan apa-apa. Menang-kalah Ahok tidaklah menjadi apa-apa (material dan status sosial) bagi saya. Tetapi, sebenarnya Alkitab–kitab suci agama Ahok–sudah mengingatkan sejak jauh sekian abad silam.  

Pertama, Amsal-amsal Salomo.
a. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (10:19)
b. “Orang jahat terjerat oleh pelanggaran bibirnya, tetapi orang benar dapat keluar dari kesukaran.” (12:13)
c. “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya , siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (13:3) 
e. “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya , orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (17:27-28)
f. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (18:21)

Kedua, Kitab Yakobus.
a. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (1:26)
b. “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api ; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (3:2-13)

Ketiga, cerita Yohanes Pembaptis. Di hadapan beberapa orang Yohanes Pembaptis pernah menegur Herodes Antipas–penguasa ketika itu, “Tidak halal kamu mengambil istri saudaramu.” (Markus 6:18). Selain itu, Yohanes memberi tahu Herodes dengan sejujurnya. Juga menunjukkan kejahatan-kejahatan lainnya yang Herodes lakukan (Lukas 3:19-20).

Keempat, cerita Yesus Kristus. Yesus Kristus akhirnya disalibkan karena, terutama, dipidana telah menista ajaran Yahudi, yang salah satunya adalah menghujat Tuhan-nya Yahudi. Barangkali bisa dipahami pula bahwa Yesus Kristus ‘dikorbankan’ melalui persekongkolan elit agama, rakyat yang terhasut, dan penguasa pada saat itu.    

Keempat itu saja yang bisa saya uraikan, berkaitan dengan Ahok, dan kekalahannya dalam Pilkada 2017. Di luar itu, saya tidak berani mencurigai Ahok dengan hal-hal yang tidak pernah saya lihat (baca) dan dengar melalui media sebab kemungkinan kecurigaan saya keliru besar.   

Apa yang saya sampaikan ini bukanlah berarti saya lebih mampu menjaga perkataan atau lebih suci dalam perkataan dibandingkan Ahok. Saya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan Ahok. Saya hanya menyesalkan sikap Ahok yang berlebihan akibat keangkuhannya, dan, kemungkinan besar Ahok tidak mau menimbang-nimbang nasihat siapa pun. Hanya menjelang putaran kedua Pilkada 2017 barulah ia mulai berubah. Sungguh sangat terlambat, jika tujuan perubahan hanya demi Pilkada itu. Sebab, keangkuhan mendului kehancuran, dan tinggi hati mendului kejatuhan.

Akan tetapi, yang terpenting dari semua itu adalah takdir–kehendak Tuhan. Apa pun analisis dengan segala dalil, takdir paling berkuasa. Rencanamu bukan rencana-Ku. Jalanmu bukan jalan-Ku. Kekalahan bukanlah segalanya hingga hidup terasa kiamat. Saya percaya, Ahok justru akan mendapat posisi dan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya jika Ahok benar-benar menyadari siapa dirinya yang sejati sebab semua yang terjadi merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih-Penyayang.

*******
Panggung Renung Balikpapan, 21 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar