Saya senang Ahok akhirnya kalah dalam Pilkada DKI
Jakarta 2017 putaran kedua, 19 April. Senang karena sebelumnya kecewa, dan
kekecewaan itu telah saya tuliskan dalam beberapa judul sampai saya mengatakan “maha
benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”.
Memang, status saya adalah orang nun jauh di balik
seberang entah mana yang kurang kerjaan untuk menyoroti Ibukota. Tetapi, ya, di
situlah posisi saya yang subyektif-independen-sama sekali tidak memiliki
kepentingan apa pun, termasuk mengenai Ahok dan kekalahannya.
Saya memiliki pendapat sendiri mengenai Ahok, yang
akhirnya kalah, dan saya pun senang. Barangkali atau pasti Pembaca menghakimi
saya begini-begitu bahwa saya telah menghakimi Ahok. Silakan saja; Pembaca
bebas pula menghakimi saya.
Sebab utama-terutama kekalahan Ahok adalah angkuh-sombong-songong. Angkuh-sombong-songong?
Saya melihat Ahok memiliki kepercayaan diri (confidence) yang tinggi sekali. Mungkin
karena ia bersih dari tindak korupsi yang merupakan tradisi negatif sebagian
besar pejabat publik. Sejak menjadi bupati Belitung Timur, anggota DPR-RI, dan
wakil gubernur bahkan gubernur menggantikan Jokowi yang naik jadi presiden,
tidak mudah melibatkan Ahok dalam kasus-kasus berujung penjara bagi pihak-pihak
terlibat. Kasus Sumber Waras pun tidak mampu menyeretnya sebagai tersangka,
apalagi terpidana.
Di lain sisi, saya menganggap sikap percaya diri
tersebut didukung oleh kemuakannya terhadap budaya buruk bernama korupsi sejak
Ahok belumlah siapa-siapa. Praktik-praktik korupsi, diskriminasi, intimidasi, kemunafikan
akut, dan sekitarnya merupakan pemandangan setiap hari dialami, barangkali.
Semua perilaku buruk nan busuk yang setiap hari tampil
di hadapannya, tentu saja, sangat memuakkan. Saya pun muak tradisi busuk yang
sangat lestari itu. Ketika Ahok mendapat kesempatan tampil secara
konstitusional, baik ketika menjadi pejabat publik maupun wakil rakyat, di
situlah kesempatannya untuk mengumbar hal-hal yang memuakkannya.
Prestasi-prestasi Ahok dalam perwujudan
program-program ini-itu, dan terobosan-terobosan yang terbukti bisa dilihat
hingga sebagian kaum marjinal benar-benar bisa mendapatkan sesuatu yang semestinya,
sampai disambut hiruk-pikuk pujian se-Indonesia raya, merupakan unsur penting
yang andil dalam peninggian rasa percaya diri Ahok yang justru menjadi bumerang
yang mematikan. Mengapa? Semua itu cenderung membutakan-menulikan, dan
melumpuhkan daya kritis yang sepadan. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna.
Yang semakin meninggikan rasa percaya diri sekaligus
pengumbaran segala kemuakan itu adalah kedekatannya dengan Jokowi, yang sedang
menjadi pahlawan bagi sebagian rakyat Indonesia tertindas selama sekian puluh
tahun. Waktu itu dia masih wakil gubernur, bisa dilindungi oleh atasannya
(Jokowi), apalagi ketika Jokowi menjadi presiden.
Persoalannya, Ahok tidak belajar pada Jokowi mengenai
pengendalian rasa percaya diri sekaligus kemuakan berlebihan, yang dalam hal
ini melalui omongan. Atau, jauh sebelum bersama Jokowi di DKI Jakarta, Ahok
tidak rajin membuka Amsal Salomo, padahal ia Kristen. Mungkin rajin tetapi
tidak menghayatinya.
Kata orang, segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Begitu juga
dengan kepercayaan diri dicampur kemuakan yang berlebihan. Hal yang paling
mudah terungkap adalah melalui omongan. Omongan atau mulut merupakan salah satu
gerbang dari benteng jiwa seseorang.
Omongan Ahok sangat tidak terkontrol. Luapan percaya
diri dan kemuakan berlebihan melepaskan kekang pada lidah-mulut-omongannya. Saya
terlalu sering membaca dan mendengar melalui televisi dan internet tentang pernyataan
Ahok yang selalu menanggapi segala sesuatu dengan selepas lidahnya, meskipun
status sebagai pejabat publik haruslah lebih berhati-hati agar tidak membuat
suasana semakin tidak terkendali.
Sekali lagi, pejabat publik. Bukan seorang nabi
Perjanjian Baru, dan rakyat biasa semacam saya. Artinya, status sosial harus
benar-benar dipahami ketika berhadapan dengan wartawan, elit-elit kelompok
tertentu, dan rakyat biasa, sehingga pengontrolan (pengendalian) omongan
menjadi sangat darurat dalam situasi yang sangat darurat pula (rival politik
selalu menunggu kesempatan!).
Beberapa hal yang juga saya catat-tuliskan adalah
mengenai reklamasi, meninggalkan TemanAhok, mulut comberan minta didoakan
menjelang debat, hal memberi, dan lain-lain. Selain itu, yang tidak saya ulas
adalah luapan kemarahannya terhadap beberapa orang tanpa memikirkan dampak
baliknya, yang di kemudian hari dipajang oleh para pendukung rivalnya menjelang
Pilkada 2017.
Yang turut menambah kisruh suasana adalah dukungan
para pemujanya, yang seperti awal saya katakan “Maha benar Ahok dengan segala
kata dan perbuatannya”, dan saya justru dicaci-maki habis-habisan oleh mereka.
Padahal saya, yang bukan siapa-siapa, bertujuan untuk mengingatkan Ahok,
termasuk ketika saya memakai ucapan J. Kristiadi, “Ahok dikalahkan oleh dirinya
sendiri.”
Ya, Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri. Sebagian
pendukungnya yang memaki saya justru sebenarnya terlibat secara mutlak dalam
kekalahan itu karena secara langsung mereka mendukung Ahok untuk semakin tidak
mampu mengelola dirinya sebagai seorang pejabat publik yang sedang ditunggu
kejatuhannya. Mereka pendukung abhkan sebagian pemilih emosional (salah tetap
benar/dibenarkan), bukan rasional (kritis).
Melalui tulisan kesekian ini saya tidak sedang
bermaksud mengajari Ahok seibarat mengajari buaya berenang di sungai, terlebih
Ahok sudah mengalami kekalahan dalam Pilkada 2017. Saya tidak memiliki
kepentingan apa-apa. Menang-kalah Ahok tidaklah menjadi apa-apa (material dan
status sosial) bagi saya. Tetapi, sebenarnya Alkitab–kitab suci agama Ahok–sudah
mengingatkan sejak jauh sekian abad silam.
Pertama, Amsal-amsal Salomo.
a. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi
siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (10:19)
b. “Orang jahat terjerat oleh pelanggaran bibirnya, tetapi orang benar
dapat keluar dari kesukaran.” (12:13)
c. “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya , siapa
yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (13:3)
e. “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya ,
orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka
bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia
mengatupkan bibirnya.” (17:27-28)
f. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka
menggemakannya, akan memakan buahnya.” (18:21)
Kedua, Kitab Yakobus.
a. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah,
tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka
sia-sialah ibadahnya.” (1:26)
b. “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal;
barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang
dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada
mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita
dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal,
walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan
oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga
lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara
yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang
besar. Lidah pun adalah api ; ia merupakan suatu
dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita
sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda
kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis
binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan
binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat
manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia
adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang
mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah
kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut
yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh
demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari
mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan
buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian
juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. Siapakah di antara kamu
yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh
hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (3:2-13)
Ketiga, cerita Yohanes Pembaptis. Di hadapan beberapa orang Yohanes
Pembaptis pernah menegur Herodes Antipas–penguasa ketika itu, “Tidak halal kamu
mengambil istri saudaramu.” (Markus 6:18). Selain itu, Yohanes memberi tahu
Herodes dengan sejujurnya. Juga menunjukkan kejahatan-kejahatan lainnya yang Herodes
lakukan (Lukas 3:19-20).
Keempat, cerita Yesus Kristus. Yesus Kristus akhirnya
disalibkan karena, terutama, dipidana telah menista ajaran Yahudi, yang salah
satunya adalah menghujat Tuhan-nya Yahudi. Barangkali bisa dipahami pula bahwa
Yesus Kristus ‘dikorbankan’ melalui persekongkolan elit agama, rakyat yang
terhasut, dan penguasa pada saat itu.
Keempat itu saja yang bisa saya uraikan, berkaitan
dengan Ahok, dan kekalahannya dalam Pilkada 2017. Di luar itu, saya tidak
berani mencurigai Ahok dengan hal-hal yang tidak pernah saya lihat (baca) dan
dengar melalui media sebab kemungkinan kecurigaan saya keliru besar.
Apa yang saya sampaikan ini bukanlah berarti saya
lebih mampu menjaga perkataan atau lebih suci dalam perkataan dibandingkan
Ahok. Saya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan Ahok. Saya hanya menyesalkan
sikap Ahok yang berlebihan akibat keangkuhannya, dan, kemungkinan besar Ahok
tidak mau menimbang-nimbang nasihat siapa pun. Hanya menjelang putaran kedua
Pilkada 2017 barulah ia mulai berubah. Sungguh sangat terlambat, jika tujuan
perubahan hanya demi Pilkada itu. Sebab, keangkuhan
mendului kehancuran, dan tinggi hati mendului kejatuhan.
Akan tetapi, yang terpenting dari semua itu adalah
takdir–kehendak Tuhan. Apa pun analisis dengan segala dalil, takdir paling
berkuasa. Rencanamu bukan rencana-Ku.
Jalanmu bukan jalan-Ku. Kekalahan bukanlah segalanya hingga hidup terasa
kiamat. Saya percaya, Ahok justru akan mendapat posisi dan kondisi yang jauh lebih
baik dari sebelumnya jika Ahok benar-benar menyadari siapa dirinya yang sejati sebab
semua yang terjadi merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih-Penyayang.
*******
Panggung
Renung Balikpapan, 21 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar