Selasa, 24 Januari 2017

Jumat, 06 Januari 2017

Sebuah Doa yang Hanya Berlaku pada 13 Januari 2017

"Tolong bapak-ibu semua doakan saya supaya bisa mengendalikan diri di debat 13 Januari nanti. Doakan saya agar mulut comberan saya tidak keluar," katanya*.

Logika perkataannya, “Tolong doakan supaya tidak bisa mengendalikan diri sebelum dan setelah debat 13 Januari nanti. Doakan agar mulut comberan tetap meluber sebelum dan setelah debat itu.” Bagaimana, doa (pengendalian diri, dan mulut comberan tidak keluar) untuknya hanya pada waktu, 13 Januari?

Sebelum 13 Januari, berarti, 12, 11, 10, 9, 8, dst., dia (pengendalian diri, dan pemasungan mulut comberan) tidak perlu didoakan alias dibiarkan saja apabila gagal mengendalikan diri, dan mulut comberannya meluber. Dan, setelah 13 Januari, atau 14, 15, 16, 17, 18, dst., dia pun tidak perlu didoakan alias dibiarkan saja apabila gagal mengendalikan diri, dan mulut comberannya meluber.

Atau, sebelum dan setelah debat 13 Januari, perkataannya, "Jangan doakan saya agar tidak bisa mengendalikan diri. Dan jangan doakan saya agar mulut comberan saya bisa keluar."

Patut diduga, doa yang dimintanya itu berlaku hanya pada acara debat, 13 Januari 2017. Sebelum dan setelah 13 Januari itu, dia bebas meliarkan diri dan mulut comberannya meluber-luber, ya, seperti biasalah, dan tidak perlu didoakan apa-apa berkaitan dengan pengendalian diri-mulut comberan.

Doa hanya untuk acara debat, 13 Januari 2017. Tidak perlu doa selain pada acara atau tanggal tersebut. Di luar 13 Januari, biarkanlah mulut comberannya meluber ke mana-mana, dan jangan didoakan.

Begitu kira-kira logika kalimat dari perkataannya, “Tolong bapak ibu semua doakan saya supaya bisa mengendalikan diri di debat 13 Januari nanti. Doakan saya agar mulut comberan saya tidak keluar."

Sebaiknya dia mendatangi pendetanya, dan minta diperbarui, daripada membiarkan mulutnya menjadi mulut comberan pada waktu sebelum dan sesudah acara debat, 13 Januari.
Lho, mengapa?

Yang sangat mungkin terjadi dalam masa kepemimpinannya adalah dia memerintahkan secara langsung melalui mulutnya sendiri kepada para bawahannya (anak buahnya) untuk melakukan hal-hal yang sama dengan air comberan alias melakukan sesuatu yang sama dengan comberan (kotor, bau bahkan busuk, dll.). Perintah yang kotor. Perintah yang busuk. Perintah yang bikin onar, kecuali ada yang menganggap comberan sebagai bagian penting dalam kebutuhan makan-minum sehari-hari.

Ya, sebaiknya dia segera melakukan konsultasi dengan pendetanya. Bagaimana dia mampu mengendalikan pemerintahan daerah, termasuk situasi fisikal dan sosial, dengan baik dan benar jika dia sendiri tidak berdaya mengendalikan diri dan mulutnya sendiri, bahkan dirinya sendiri, ‘kan?

Persoalan utama bukanlah pada mulut tetapi 1) comberan dalam dirinya (jiwa), 2) ketidakberdayaan mengendalikan gejolak dalam diri, dan 3) akhirnya pasti gagal mengendalikan mulutnya. Betul, tidak?

Salomo sudah mengingatkan melalui Amsal 21:23, "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." Kesukaran yang terjadi, dan bersifat massif adalah dalam Peristiwa 411 dan 212. Apakah masih kurang sukar? Dan itu semua gara-garanya apa? Kebijakan atas penggusuran? Kebandelan atas reklamasi? Atau, gara-gara Monas diperbolehkan menjadi tempat gantung diri elit politik?

Juga dalam Amsal 21:23, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Kali ini bukan ‘merebut’ kota, melainkan Ibukota alias provinsi. Tanpa penguasaan diri, bagaimana nekat minta didoakan hanya untuk 13 Januari?

Kemudian dalam Matius 15: 17-18 Yesus Kristus mengatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.”

Mulut comberan, patut diduga
pula, bukanlah mulutnya yang seperti comberan tetapi comberan itu berasal dari hatinya. Comberan dalam hati itu pun keluar melalui mulutnya.

Dalam Yakobus 3:12 tertulis, “Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”

Bagaimana dengan mata air bersih (sumber air tawar) jika mengeluarkan air comberan? Berarti ada yang tidak beres, ‘kan?

Sebenarnya masih banyak prinsip-prinsip pengendalian diri dan mulut yang tertulis dalam ayat Alkitab, yang sama sekali tidak diindahkan olehnya. Meski sudah menyadari (pakai minta didoakan), tetap saja dia begitu permisif untuk minta doa yang berlaku satu hari (13 Januari), bukannya seterusnya agar dia tidak bertindak semena-mena gara-gara gagal mengendalikan diri dan mulut comberannya.

Oleh karena itu, seperti telah disinggung, sebaiknya dia mendatangi pendetanya, dan minta diperbarui, daripada membiarkan mulutnya menjadi mulut comberan pada waktu sebelum dan sesudah acara debat, 13 Januari. Pengendalian diri dan mulut comberan tidaklah cukup hanya terjadi pada acara debat, 13 Januari 2017. Melainkan pula lebih luas jangkauan waktunya.

Mendatangi pendetanya, atau gembala di tempatnya beribadah, tentu saja, merupakan alamat konsultasi (konseling) yang tepat. Tidak perlu menggunakan pesawat terbang, yang bakal menyita sedikit APBD. Itu pun kalau saja dia tidak merasa dirinya lebih pintar-cerdas dibanding pendetanya lho, ya?

Bagaimana? Mudah, dan sederhana, ‘kan?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 5 Januari 2017


*) https://www.merdeka.com/jakarta/ahok-doakan-agar-mulut-comberan-saya-tidak-keluar-saat-debat.html?fb_comment_id=fbc_1448448085196013_1449995318374623_1449995318374623

Pedasnya Kado Awal Tahun Baru

Saya termasuk penggemar cabai, dan cabai biasa-biasa saja. Bisa secara sederhana, yaitu makan nasi dengan sesekali menggigit dan mengunyah cabai. Bukan sekadar selera pribadi tetapi kebiasaan semacam itu juga pernah dilakukan oleh ayah saya.

Ceritanya, suatu hari ayah saya pulang dari tempat kerja sekitar pukul 13.30, dan bersiap untuk makan. Karena tidak ada sambal, beliau bergegas ke samping rumah. Di situ terdapat tanaman cabai, dan sedang matang buah-buahnya. Beliau memetik sebanyak tiga butir, meletakkan pada mangkuk kecil berisi air, sebentar mencuci, lalu makanlah beliau dengan asyik.

Hal-hal lain berhubungan dengan makan dengan selingan cabai secara sederhana adalah ketika saya berada di Kupang, N.T.T., selama sekian bulan. Seorang kawan makan nasi dengan selingan cabai dan sedikit garam, atau istilahnya “garam-cabai”. Makannya dengan cara unik seperti masa kecil saya makan, semisal jambu, dan mencocolnya pada garam-cabai tetapi cabai digerus bersama garam. Sementara kawan saya itu mencocol cabai pada garam.

Berikutnya, sambal kecap. Kecap manis, bawang merah, dan cabai. Bawang merah dan cabai diiris-iris, lalu dicampurkan dalam kecam seukuran mangkuk kecil. Tentunya ini sudah tidak terlalu sederhana. Saya pun menyukainya, terutama dengan irisan bawang yang bisa memberi kesan rasa tersendiri.

Yang juga penting dalam menikmati mi instan adalah dengan adanya irisan cabai. Aroma cabai yang muncul bersama kuah mi instan sangat sensasional. Alangkah sedapnya!

Begitulah mudahnya. Selera makan dengan adanya cabai, nikmat sekali. Cukup tiga butir, saya sudah menikmati makanan saya dengan penuh ucapan syukur.

Yang tidak kalah mudah, sebenarnya, adalah menanam cabai. Satu butir cabai memiliki biji lebih dari sepuluh butir. Cabai matang, semisal merah, bisa secara mudah dikembangbiakkan. Medianya tidak perlu seluas satu hektar. Pokoknya mudah deh.

Di rumah saya pun tanaman cabai mudah ditemui, khususnya di halaman depan. Kalau sedang berselera tinggi pada cabai, saya bisa mendapatkan cabai segar. Intinya, secara pribadi, saya tidak kerepotan mendapatkan cabai ketika hendak makan dengan sensasi pedasnya cabai.

Berkaitan dengan cabai, minggu pertama tahun baru sebagian orang Indonesia mendapat kado yang cukup pedas, yaitu harga cabai yang melejit. Dalam Kompas* tertulis berita, “Di Kalimantan itu sudah Rp 150.000 per kilogram (kg), di Jawa Barat yang sentra cabai saja harganya sudah di atas Rp 100.000 per kg. Kalau di DKI Jakarta memang masih di kisaran Rp 100.000 sampai Rp 110.000 per kg.” Hal tersebut disampaikan oleh  Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri.

Menurut berita Kompas TV**, “Pertama kali di Indonesia, harga cabai menembus rekor tertinggi yaitu Rp 250.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit tiung terjadi di Pasar Induk Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Biasanya harga cabai berkisar Rp 30.000-Rp 50.000 per kilogram. Pedagang menduga cuaca buruk sebabkan petani cabai gagal panen.”
      
Berita yang, menurut saya pribadi, sangat ironis, mengingat Kalimantan Timur bukanlah suatu provinsi terpadat di Indonesia. Juga, seperti yang sudah saya singgung, menanam cabai itu sangat mudah. Tetapi mengapa bisa begitu?

Mungkin harus dibedakan antara kebutuhan cabai dalam satu rumah tangga dan dalam satu kepentingan bisnis, semisal bisnis kuliner. Kalau para pebisnis kuliner, minimal pedagang gorengan, seketika merasa betapa pedas harga cabai, itu wajar-wajar saja.

Tetapi, kalau hanya seorang ibu rumah tangga yang membutuhkan capai untuk pelengkap makanan di rumah, sungguh sangat tidak wajar. Apakah sebenarnya situasi ini justru mengungkapkan kemalasan orang-orang menanam cabai?

Sudahlah, tidak perlu repot soal kemalasan siapa, bahkan menyalahkan pemerintah, lalu pemerintah menyalahkan cuaca. Siapa menyalahkan siapa, begitulah intinya. Tidak siapa pun sudi mengakui kesalahan. Dan, kalau selalu menyalahkan, mana solusinya?

Nah, saya memberi solusi sederhana saja. Manfaatkan sedikit lahan di rumah untuk menanam cabai. Cabai pun bisa ditanam dalam pot. Pengelolaannya tidak perlu dengan mesin pembajak seperti di kawasan persawahan. Tidak perlu berkarung-karung pupuk. Tidak perlu repot dengan semprotan obat anti-hama.  

Sederhana, dan mudah, ‘kan?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 6 Januari 2017

*) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/05/073100526/harga.cabai.meroket.ratusan.ribu.per.kg.kado.pahit.di.awal.2017.

**) http://tv.kompas.com/read/2017/01/04/5270020183001/harga.cabai.tembus.rekor.rp.250.ribu.per.kilogram

Rabu, 04 Januari 2017

Labilitas Listrik di Gerbang 2017

Tadi malam, sekitar pukul 11.00, listrik di rumah ataupun wilayah RT kami padam. Menurut amatan saya, terakhir listrik padam sebelum 25 Desember 2016.

Sementara seorang kawan di Balikpapan menulis status medsosnya, “Ada yg tahu klinik yg bs ngobatin pln ngga ya....nyala nya mulai berkedip kedip per jam eeeeeeehhhhhhh... .” Sebelumnya, 2 Januari, ia menuliskan, “Terima kasih pln kau menengahi hari ini dgn pemadaman mu...semoga tahun ini lebih baik dr tahun kemarin...padamin setahun sekalian nah biar kelahi aja kita. Agghhhhhh.”

Inilah listrik padam di awal 2017. Dan, sebenarnya, saya bosan menulis mengenai listrik padam alias listrik labil, yang dikelola oleh salah satu BUMN tersebut. Tapi, mengapa sekarang saya menuliskannya lagi?

Pada Selasa, 3 Januari 2017, di Istana Merdeka Presiden Jokowi berkata, “Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu.”*

Katanya lagi, Indonesia perlu belajar dari kemajuan perusahaan milik negara di Uni Emirat Arab (UEA). Perusahaan BUMN di negara itu pada awalnya dipimpin oleh orang-orang Eropa, karena fakta menunjukkan orang-orang kulit putih sudah lama memahami dan menguasai dunia bisnis secara modern. Namun sejak 1975, secara bertahap CEO perusahaan-perusahaan itu dipegang oleh orang-orang UEA yang belajar dari orang-orang asing tersebut atau yang telah belajar di luar negeri, sehingga kemudian perusahaan-perusahaan milik negara mengalami kemajuan pesat.

“Jadi, intinya,” kata Jokowi, “bisa saja orang-orang bule untuk sementara memimpin dan mengelola beberapa perusahaan BUMN agar perusahaan-perusahaan itu mengalami kemajuan secara pesat, tapi kepemilikannya tetap. Perusahaan-perusahaan BUMN harus tetap milik negara.”

Saya mengaitkannya dengan tempat tinggal saya saat ini. Balikpapan mendapat julukan luar biasa. “Kota Cerdas” (Smart City). “Kota Internasional”. “Kota Nyaman Huni”. “Kota Paling Dicintai Dunia”. Entah apa lagi julukan hebat lainnya.

Dan, saya mengaitkannya pula dengan keberadaannya di Kalimantan Timur (Kaltim). Kaltim mendapat predikat “Provinsi Terkaya di Indonesia”. Para elit Kaltim pun pernah menuntut status otonomi khusus untuk Kaltim karena kekayaannya.

Ironisnya, di Kota Minyak dan Provinsi Terkaya ini listriknya sering mengalami labilitas daya. Apakah selama puluhan tahun berkubang kekayaan lantas tidak mampu membeli alat pembangkit listrik yang memadai? Lagi, bukankah selama ini listrik dikelola oleh PLN? Bukankah PLN merupakan bagian dari BUMN? Sudah tidak berdayakah para pengelola BUMN?

Jadi, intinya --- meniru perkataan Jokowi, listrik, PLN, dan BUMN merupakan satu-kesatuan. Para pengelolanya, selama ini, adalah orang-orang Indonesia sendiri. Tetapi, dengan realitas nyala-padam yang sering terjadi, bahkan di provinsi terkaya, bukan tidak mungkin perkataan Jokowi, khususnya berkaitan dengan istilah “orang bule”, sewajibnya menjadi kritik bahkan teguran yang memalukan bagi kita, orang-orang yang bangga menjadi peribumi alias bumiputera.

Akhirnya kembali pada saya, dan kawan saya tadi, merupakan pelanggan PLN. Secara pribadi, saya tidak bisa melihat siapa, entah peribumi ataupun orang bule, yang kelak pengelola BUMN. Yang selalu menjadi penting bahkan darurat adalah listrik menyala karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, dan hanya itu yang paling jelas terlihat.

Itu saja. Mudah dan sederhana, ‘kan?

*******
Panggung Renung, 4 Januari 2017


*) https://www.merdeka.com/uang/presiden-jokowi-buka-pintu-pekerja-asing-jadi-bos-bumn.html

Selasa, 03 Januari 2017

Awas, dari Jemari Berujung Jeruji

Saya membaca berita Kompas* optik hari ini yang berjudul “Pemerintah Blokir 11 Situs yang Dianggap Tebarkan Fitnah dan Kebencian”. Dari berita itu, kesebelas situs internet yang ditutup adalah voa-islam.com, nahimunkar.com, kiblat.net, bisyarah.com, dakwahtangerang.com, islampos.com, suaranews.com, izzamedia.com, gensyiah.com, muqawamah.com, dan abuzubair.net. Alasannya, seperti ujaran kebencian, fitnah, provokasi, SARA, hingga penghinaan simbol negara. Sementara itu, dua lainnya karena mengandung phising dan malware

Sepintas saya tertarik pada kata phising, atau sebenarnya phishing, dan malware. Lalu, iseng-iseng, saya mencarinya agar saya bisa memahami arti kedua kata tersebut.

Phishing adalah usaha untuk mendapatkan suatu informasi penting dan rahasia secara tidak sah, seperti User ID, password, PIN, informasi rekening bank, informasi kartu kredit, atau informasi rahasia yang lain. Menurut blog Cybercrime, kata phishing berasal dari fishing (memancing), yang dalam hal ini adalah memancing informasi keuangan dan kata sandi (password) pengguna.

Sementara malware adalah sebuah program yang diciptakan dengan maksud dan tujuan tertentu untuk mencari celah kesalahan di dalam perangkat lunak (software) atau pengoperasian sistem (operating system). Kata malware sendiri merupakan sebuah singkatan dari malicious software, yang berarti perangkat lunak mencurigakan.

Mengenai kedua kata tersebut saya sekadar ingin memahami sebab tertarik sepintas. Bukan untuk menjelaskan secara bla-bla-bla. Sebab, tulisan ini tidak sedang saya maksudkan untuk membahas isi berita secara ble-ble-ble.

Kembali ke berita pertama, yang kemudian disambut oleh berita kedua berjudul Fadli Zon Anggap Pemerintah Sewenang-wenang Blokir Situs**. Menurut sang Wakil Ketua DPR R.I. 2014-2019 atau juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, “Pemblokiran yang sewenang-wenang, selain dapat melanggar konstitusi, juga mengancam kebebasan berpendapat yang telah dibangun. Publik berhak tahu prosedur serta alasan pemblokiran. Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, diatur bahwa masyarakat berhak mengetahui dasar dari setiap keputusan yang diambil oleh lembaga pemerintah.”

Tetapi melalui tulisan ini saya tidak hendak ‘mengadu’ keduanya (antara eksekutif dan legislatif). Saya hanya seorang rakyat biasa-biasa saja. Persoalan berbangsa-bernegara bukanlah kompetensi saya, jika dibanding dengan kedua lembaga negara tersebut.

Nah, bagaimana pendapat saya sebagai seorang rakyat biasa-biasa saja yang selalu iseng mengelola situs internet sendiri?

Begini. Saya menduga---eh, boleh, ya, menduga?---bahwa persoalan semacam ini bukanlah baru. Misalnya, berkaitan dengan situs bertujuan “memancing” (phishing) dan “perangkat lunak mencurigakan” (malware) berujung pada kepentingan keuangan (money oriented, ekonomi, finansial, nominal, dan sejenisnya) sudah ramai pada awal tahun 2000 dengan istilah kasarnya pencuri isi kartu kredit/tabungan (carder) dan peretas (hacker).

Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan ujaran kebencian, fitnah, provokasi, SARA, hingga penghinaan simbol Negara, keramaiannya dimulai pada masa Pilpres 2014. Meskipun demikian, karena pernah terlibat aktif dalam pers mahasiswa dan bergaul dengan beberapa kawan Fisip, keramaian itu tidaklah terlalu saya hiraukan. Toh semuanya berujung pada kepentingan politik semata. Rakyat, khususnya yang kurang waspada, akan mudah terusik bahkan sebagian malah terkorbankan hingga mengalami kondisi “gagal paham” bahwa sekarang bukanlah 2014 tetapi sudah 2017.

Beginilah dua dugaan saya terkait dengan berita dari Kompas tadi. Selanjutnya, bagaimana dengan sikap saya, yang biasa bersitus-situs pribadi ini?

Saya sudah menyinggung mengenai keterlibatan aktif semasa mahasiswa, dan, tentunya, tidak terlepas dari status pendidikan saya sebagai sarjana. Maksud saya, data-data menjadi penting sebagai landasan berargumentasi atau beropini. Apabila berasal dari data media massa, tentu saja saya akan memilih media massa terkemuka (mainstream), semisal Kompas tadi.

Akan tetapi, dari kesemua hal bersifat teknis-analisis sampai siap menjadi tulisan bli-bli-bli untuk saya publikasikan, entah di media sosial, entah pula di situs pribadi, pangkal atau sumber utamanya adalah niat, motivasi atau suatu kehendak dalam diri saya sendiri. Saya selalu berusaha kritis tetapi paling penting adalah introspeksi sekaligus melakukan semacam analisis dampak tulisan terhadap para pembaca dan keberlangsungan hidup berbangsa-bernegara.

Ya, kesadaran diri menjadi titik tolak paling krusial sebelum terjadi keliru kelola (malpraktik) pada situs saya. Rambu-rambu berbangsa-bernegara yang ditanamkan oleh keluarga dan almamater saya harus selalu berfungsi sebagaimana mestinya. Tentunya tidak perlu menunggu peringatan bahkan blokiran dari Negara, bukan?

Saya sadar bahwa saya pasti berhadapan dengan Negara apabila situs swakelola saya bersinggungan langsung dengan Negara. Seandainya saya teledor atau ceroboh dalam pengelolaan situs pribadi yang menyinggung Negara secara tidak benar, saya pasti akan diperhadapkan hukum Negara karena sejatinya saya merupakan seorang warga Negara yang nyata–bukan Negara maya. Suatu konsekuensi logis jika dari jemari bisa berujung jeruji, bukan?       

Oleh karenanya saya harus selalu waspada terhadap niat, kehendak atau motivasi dalam diri saya sendiri terlebih dulu. Apalagi sekarang sudah 2017, yang artinya usia saya pun mengikuti waktu sekarang sehingga situs swakelola saya dapat menjadi jejak dan indikasi berbangsa-bernegara saya, selain berkarya. Saya akan selalu mengembalikan tujuan mengelola situs saya kepada diri saya sendiri, tanpa perlu repot menunggu tanggapan Negara yang ternyata terganggu oleh keberadaan situs saya.

Intinya : saya mencintai Indonesia. Lahir dan mati saya tetap akan di Indonesia. Dan, sampai saya mati pun, Indonesia akan ada hingga dunia berakhir. Begitu saja mudah-sederhananya.

*******
Panggung Renung, 3 Januari 2017

*) http://nasional.kompas.com/read/2017/01/03/19201421/pemerintah.blokir.11.situs.yang.dianggap.tebarkan.fitnah.dan.kebencian

**) http://nasional.kompas.com/read/2017/01/03/20023791/fadli.zon.anggap.pemerintah.sewenang-wenang.blokir.situs

Senin, 02 Januari 2017

Satu Ulah Kembang Api pada Malam Tahun Baru 2017

Malam Tahun Baru 2017–dalam tulisan ini Tahun Baru Masehi, atau ujung malam tahun 2016 kemarin, seperti juga malam tahun baru sebelumnya, merupakan malam ‘peperangan’ di sekitar rumah kami. Kalau pada sore diawali dengan letusan petasan dari sebuah rumah tetangga belakang Panggung Renung, lantas malamnya disusul oleh dentuman kembang api sekaligus buraian menyala dari berbagai arah.

Saya kaget begitu mengetahui dua anjing kami pun ketakutan (berdebar-debar, dan ngos-ngosan). Di Panggung Renung seekor anjing kami sibuk menggaruk-garuk pintu belakang. Saya sangat terganggu, lalu pindah ke Beranda Khayal. Di sana seekor anjing lainnya bersimpuh dengan berdebar-debar dan ngos-ngosan. Baru satu kali itu saya melihat keduanya ketakutan. Mungkin karena keduanya mengira perang dunia ke-3 sedang terjadi seperti ramalan orang-orang yang sampai ke telinga anjing kami.

Tetapi saya sudah berdamai dengan situasi malam Tahun Baru. Mengenai kembang api dan petasan Tahun Baru, telah saya tulis dalam buku Belajar Peta Indonesia (Abadi Karya, 2016). Ya, secara pribadi, saya tidaklah akrab dengan kembang api pada malam Tahun Baru.

Secara umum, kembang api dan malam Tahun Baru memang sudah menjadi saudara kembar, entah sudah berapa puluh tahun, siapa bidan yang menangani persalinannya, dan di mana peristiwa persalinan terjadi. Yang saya tahu, ibu si kembar adalah dunia.

Di Beranda Khayal, dengan ngos-ngosan di moncong anjing dan dentum di sekeliling langit atas rumah, saya sudah bisa mengendalikan diri saya untuk tidak menyoalkan apa-apa mengenai perkembaran antara Tahun Baru dan kembang api, meskipun atap seng rumah kami mengalami kerontokan kembang api yang diledakkan oleh tetangga pada pukul 21.00-an.

Pukul 21.00-an, yang belum di dekat tengah malam? Ya, begitulah. Beberapa tetangga sudah tidak sabar untuk menyulut sumbu kembang api. Hal yang biasa saja alias sama seperti tahun sebelumnya.

Saya tetap berada di Beranda Khayal sampai terdengar suara sirine dari arah Jalan A. Yani sekitar pukul 23.45. Mendadak saya berpikir, itu sirine mobil damkar-kah, bukannya mobil ambulan atau patroli keamanan.  

Sekejap pikiran itu lenyap, berganti dengan berpikir positif. Situasi aman, dan terkendali untuk Malam Tahun Baru ini. Apalagi gelegar kembang api kian menjadi-jadi hingga menjelang pukul 01.00. Semoga bukan gelegar bom maut sebab akhir 2016 berita seputar aksi teroris cukup mengusik rasa nyaman-aman saya setelah sebuah bom molotov meledak di depan Gereja Oikumene, Samarinda pada Minggu, 13 November 2016.

Tetap berpikir positif, bukankah itu baik? Tetapi juga, mengenai kembang api yang berbahan dasar mesiu semacam itu memang sering merecoki pikiran saya hingga muncul pikiran negatif, di luar berita aksi teroris. Misalnya ledakan di rumah pengepul kembang api, mobil pembawa kembang api, dan lain-lain, termasuk korban dengan kondisi yang begini-begitu. Benar-benar horor bisa datang mendadak, jika membiarkan pikiran ke arah negatif.

Betapa tidak horor. Ada satu benda yang sudah menjadi kawan kembang api, dan paling sering merecoki pikiran saya. Benda tersebut berbentuk sebundaran balon lampu atau balon karet berbahan bakar gas. Benda itu perlahan-lahan terbang, dan mengikuti ke mana saja arah angin.

Saya melihat benda itu dari Beranda Khayal. Warnanya merah. Yang terbayang dalam benak saya adalah benda yang seolah hamil api itu tiba-tiba hinggap di suatu tempat berisi bahan-bahan mudah meledak atau terbakar. Betapa horornya!

Saya tidak percaya bahwa benda itu sejenis pesawat makhluk luar angkasa alias UFO (Unidentified Flying Object). Juga tidak percaya benda mistik bernama braja atau banaspati, atau suatu ritual santet. Kemungkinan mirip lampion terbang seperti dalam tradisi Tionghoa. Atau, mungkin, bola api yang biasa dipakai sebagai penanda situasi darurat di tengah laut.

Apa pun bola api bikinan manusia semacam itu, tentu saja, sangat berisiko. Ingat, bola api. Bukan bola karet, bola plastik, atau bola bolu. Bagaimana seandainya bola api itu mendadak turun alias jatuh di lingkungan padat hunian… Ah! Horor banget deh.

Mending berpikir positif, ‘kan? Misalnya orang-orang bersuka ria pada malam Tahun Baru. Bisnis kuliner mendapat keuntungan besar, yang pasti berimbas pada anak buah pengelolanya, bahkan petani jagung. Orang-orang kaya mau menyisihkan uang untuk membeli petasan, kembang api, dan terompet yang diperdagangkan secara mendadak di pinggir jalan.  Dan lain-lain. Alhasil, semua orang itu berbahagia dengan adanya malam Tahun Baru.

Semua orang itu berbahagia. Titik. Saya harus sadar diri (berlatar ekonomi keluarga penuh perhitungan, dan kampung halaman yang sangat pelosok di Bangka), dan menambah kadar kompromi-toleransi. Toh letusan dan ledakan semacam itu biasa juga terjadi pada malam Idul Fitri, ulang tahun kota, dan lain-lain. Saya bertahan di Beranda Khayal hingga azan Subuh berkumandang dari toa beberapa masjid.  

Sekitar siang, 1 Januari 2017, barulah saya mendengar kabar mengenai sirine tadi malam. Ada berita di Tribunnews Kaltim berjudul Kembang Api, Rumah Jabatan Kapolda Terbakar. Juga Antaranews menuliskan judul beritanya, Rumah Dinas Kapolda Terbakar Kena Kembang Api.

Saya cuplik dari Tribunnews Kaltim saja. Bertepatan dengan malam pergantian tahun baru, rumah jabatan Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengalami kebakaran.
Kejadian ini berlangsung saat masyarakat ramai menyalakan kembang api sekitar pukul 00.00 Wita. Peristiwa ini di kawasan rumah dinas Polda yang ada di bilangan Jalan Jendral Sudirman, atau depan persis Rumah Sakit Pertamina Kota Balikpapan, Minggu (1/1/2017).

Dugaan sementara, berdasarkan kesaksian seorang anggota kepolisian yang menjaga rumah dinas itu, kebakaran diakibatkan percikan atau letupan kembang api jatuh ke atap rumah dinas.
"Ada asap mengebul dari atap. Langsung saja telepon mobil pemadam kebakaran," ungkap anggota kepolisian yang enggan disebutkan namanya.

Ternyata berpikir positif harus tetap mengindahkan kemungkinan negatif yang bisa terjadi di luar kebiasaan. Pepatah ngawur pernah berpetuah, “Dalam kembang api dapat diduga tetapi dalam hati penyulutnya, siapakah yang tahu?” Artinya, kewaspadaan tetap menjadi penting karena bahan utama kembang api bukanlah kembang melati ataupun kembang gula.

*******
Panggung Renung, 2 Januari 2017 

Kalender Masehi dan Kelahiran Indonesia

Selamat Tahun Baru 2017 Masehi

Selama satu dekade, dalam amatan saya, ada sekelompok orang di Indonesia yang alergi terhadap kalender Masehi, di samping perayaan tahun baru yang asalnya begini-begitu. Kelompok tersebut, tentunya, memulai hidup setelah sekian puluh tahun kemerdekaan Indonesia.

Saya gagal memahami (istilah kekinian : “gagal paham”) mengenai pendidikan kelompok tersebut. Lho, kok pendidikan?

Lho, iya dong. Kalau kelompok itu berpendidikan di Indonesia, tentunya lucu kalau alergi pada kalender Masehi. Padahal sebagian besar orang Indonesia tidaklah alergi pada kalender Jawa, Sunda, Bali, dan lain-lain, bahkan Hijriyah, Saka, ataupun China, dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini.

Pertanyaan paling dasar secara individual dulu deh. Akte kelahiran menggunakan kalender apa? Peringatan hari lahir (birthday) menggunakan kalender apa? Dan, era media jejaring sosial selama satu dekade ini menampilkan hari lahir yang kemudian dilimpahi segala ucapan-doa, menggunakan kalender apakah?

Pertanyaan berikutnya, berkaitan dengan pendidikan. Kalender apakah yang dipakai dalam setiap berkas atau dokumen, semisal untuk masuk PAUD atau TK, yang berkaitan dengan pendidikan? Teks Proklamasi Kemerdekaan pasti pernah diajarkan, dan memakai kalender apakah? Ada lagu kebangsaan Indonesia yang diajarkan sebagai upaya memupuk semangat berbangsa-bertanah air dengan jelas menyebutkan angka, bulan, dan tahun berdasarkan kalender apakah?

Atau simak kembali lagu “Hari Merdeka” karya H. Mutahar sebelum mengalami ingatan lumpuh secara sengaja maupun tidak sengaja.

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Dengan lagu itu pun saya tidak perlu bertanya lagi. Intinya, sejak Indonesia merdeka, dan segala dokumen kedaulatan bangsa-negara yang dibuat oleh para pendiri Bangsa Indonesia menggunakan kalender Masehi.

Kelompok orang, yang merupakan warga negara Indonesia, seyogyanya sadar diri (mawas diri) bahwa inilah Indonesia, tanah lahir dan tempat berpijak secara nyata, yang sejak semula dibentuk menggunakan kalender Masehi. Lagu tadi pun sudah jelas sampai lirik terakhirnya, Membela negara kita.

Nah, mereka bukanlah pembentuk dan pendiri Indonesia, bagaimana bisa mengalami alergi pada kalender Masehi yang dipakai pula untuk kemerdekaan-kedaulatan Indonesia? Alerginya karena apa, sih, sebenarnya? 

Dan, barangkali, sekian waktu mereka berpikir, bagaimana menggantikan kalender Masehi yang dipergunakan oleh negara. Lho, mengapa harus repot berpikir sampai kelak botak seperti saya?

Saran terbaik saya untuk kelompok tersebut, begini. Daripada alergi tetapi kealergian itu justru merusak iklim persatuan NKRI lebih baik pindah ke negara lain, yang menggunakan kalender bukan Masehi, misalnya kalender Mesir, Maya, China, Jepang, dan kalender-kalender dunia selain Masehi. Berikutnya, ganti tanggalan di seluruh dokumen, dari akte kelahiran, rapor atau dokumen pendidikan, hingga dokumen apa pun terkini dengan kalender pilihan sesuai dengan keinginan sendiri. 

Bagaimana saran saya? Lebih mudah-sadar kenyataan, yang tanpa harus mengalami kebotakan, ‘kan?    

*******

Panggung Renung Balikpapan, 2 Januari 2017