Rabu, 24 Mei 2017

Sedikit Kisah Nyata untuk Bapak Wapres tentang Tionghoa-Kong Hucu

Pada 15 Mei 2017 aku membaca tulisan yang dipajang di beranda Fb Penulis Hanna Fransisca dari kiriman Muhammad Hamizan dari cuplikan berita berjudul “Soal Kesenjangan Si Kaya & Si Miskin, JK Waswas Luar Biasa”.

Isi cuplikan beritanya begini.
Wapres JK mengingatkan kesenjangan yang ada di Indonesia sudah cukup membahayakan. Sebab, ada perbedaan agama antara si kaya dan si miskin. Hal itu disampaikan JK saat menutup sidang tanwir Muhammadiyah di Ambon, kemarin.
Menurut JK, dengan kondisi ini, kesenjangan di Indonesia lebih berbahaya dibanding di negara lain. Misalnya di Thailand dan Filipina. “Di sana, baik yang kaya maupun miskin memiliki agama yang sama. Sementara di Indonesia yang kaya dan miskin berbeda agama,” ujar JK.
Di Indonesia, kata JK, sebagian besar orang kaya adalah warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghuchu maupun Kristen.
(dan seterusnya…)

Sebelumnya Muhammad Hamizan menuliskan, “Yg terhormat Pak JK, yng paling miskin di Indonesia itu org Papua dan bukan muslim. Sedangkan Propinsi termiskin adalah NTT, mayoritas non-muslim pula.

Lalu Penulis Hanna Fransisca yang tingal di Kalimantan Barat bersaksi, “Aku sejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang miskin. Kami sekeluarga hanya mampu sewa 1 kamar di rumah tua yang hampir ambruk. Tidak ada bantal, tidak guling, tidak ada selimut. Aku ingat persis,  hanya punya dua gaun usang, sandal jepit kebesaran yang bisa dipakai secara bergantian, tipis dan bolong pula bagian tumitnya. Di kamar hanya ada tikar pandan yang sobek sana-sini, hanya ada lampu minyak tanah. Tidak usah cerita soal pergi ke sekolah, cerita beras di dapur saja harus utang dulu ke warung, pinjam sama tetangga. Tentu tak hanya keluarga kami yang serba kekurangan. Masih banyak lagi saudara yang lain yang jauh lebih terpuruk lagi.”

Mau-tidak mau pikiranku mundur ke ingatan yang pernah kualami dan saksikan pada masa lampau berkaitan dengan stereotipe mengenai orang Tionghoa-Kong Hucu dengan status ekonomi begitu, meskipun sebagian kecil sudah kuabadikan dalam buku Belajar Peta Indonesia (2016). Buku itu sudah ada di Perpustakaan Nasional R.I. Ada dua eksemplar, Pak, di situ. Buku itu aku buat dan terbitkan dalam kerangka mencatat ingatan berbangsa-bernegara sejak dari kampung, Pak, meskipun aku bukanlah siapa-siapa dibanding Bapak.

Aku dilahirkan sampai puber di Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan bersekolah menengah atas Jurusan A1/Fisika sampai lulus kuliah Jurusan Arsitektur di Yogyakarta. Nama Sungailiat memang kalah pamor dibanding Pangkapinang dan Muntok (tempat peleburan bijih timah terbesar sedunia pada masa jaya timah). Sungailiat hanya kota kecil di timur Pulau Bangka dan di utara Pangkalpinang.  Apalagi Kampung Sri Pemandang Atas, Pak.

Pak JK yang terhomat secara regional-nasional-internasional-global,
aku pun sepakat banget pada tulisan Hanna Fransisca, “Aku lebih meyakini etnis apa pun, agama apapun, ada yang miskin ada yang kaya raya macam Pak JK, ada yang baik dan ada yang jahat.”

Ketika aku menikmati masa bersenang-senang di Kampung Sri Pemandang Atas Sungailiat, tidak semua kawan Tionghoa-ku di Bangka hidup seperti stereotipe dari sebagian orang Indonesia. Rumah kami dibangun oleh orang Tionghoa, dari pembantu (kenek/helper) sampai mandor (mandornya/pemborongnya bernama Min Ho).

Dulu keluarga kami pernah memiliki asisten rumah tangga beretnis Tionghoa dan beragama Kong Hucu. Kalau tidak keliru, anaknya dua. Bapak bisa bayangkan, mengapa ada orang Tionghoa menjadi asisten rumah tangga di rumah kami, padahal orangtuaku bukanlah keluarga kaya raya.

Bapakku, Slamet Sudharto, yang kelahiran Madiun 1929, mantan Tentara Pelajar wilayah Malang dengan bersenjatakan senapan mesin (1945-1950, termasuk bagian dari Mobrig, terlibat perang di Peristiwa Surabaya, atau Bapak bisa cari info pada keluarga kami di Sambirejo, Madiun), dan menjadi guru swasta di Sungailiat sejak pertengahan 1950 juga mendidik aku di rumah mengenai Indonesia, Pak.

Guru, Pak. Guru SMP (pagi-siang) dan STM (sore-malam). Guru juga di rumah ketika aku harus belajar mengenai Indonesia karena bapak seorang veteran perang, meski sama sekali tidak pernah diakui negara Indonesia tercinta ini, apalagi menerima gaji pensiun tentara, Pak. Lingkungan rumah dan sekolah sangat mendukung belajar ke-Indonesia-anku, Pak, tanpa perlu repot mencari buku-buku yang masih langka pada waktu itu.

Bapakku juga berkenalan baik dengan setiap kepala aparat di Sungailiat. Zaman Pak Duri (ayahnya Rafika Duri), Pak Saylan, dan seterusnya, karena mantan veteran selalu dekat dengan aparat keamanan sebagai satu keluarga yang berbakti kepada Indonesia. Dari bapak aku belajar mencintai Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini, Pak.

Ibuku kelahiran Karanganyar-Solo pada 1939. Seorang mantan karyawan Rumah Sakit Unit Penambangan Timah Bangka. Waktu masih aktif disitu, setiap bulan mendapat jatah sembako lengkap, terhitung dari semua anggota keluarga. Semakin banyak anak, semakin banyak jatah sembakonya. Timah, pada masa itu, Pak, masih dalam masa jaya dengan sebutan “emas putih”, yang pernah menjadi penyumbang devisa nomor dua setelah minyak bumi. Ya, soal makan-minum dan lain-lain, masa kecilku lebih beruntung daripada Hanna Fransisca.

Orangtuaku bisa membayar asisten rumah tangga beretnis Tionghoa karena tidak bermasalah dengan keberadaan sembako bulanan, di samping mengangkat beberapa anak (semuanya beragama Islam) yang sedang bersekolah karena latar ekonomi keluarga mereka yang sangat perlu dibantu (Puji Tuhan, mereka telah hidup mapan secara ekonomi, Pak, karena mereka juga pekerja keras dan Allah Tuhan mereka sangat menyayangi mereka).

Aku pun bergaul dengan anak kampung yang tidak mengenal permainan anak orang kaya di kota. Di kampung halamanku dulu ada seorang penjual tahu dari etnis Tionghoa-Kong Hucu. Belum ada penjual tahu dari etnis lainnya. Sudah tua, berkaus putih polos yang sudah mirip saringan tahu, dan naik sepeda onthel, Pak. Sebelum giliran aku, kakakku sering bertugas menunggu kedatangannya di depan rumah pada pagi hari sekitar pukul 06.00.  

Ada juga penjual ikan keliling sekitar pukul 09.00. Satu ini paling ditunggu ibu-ibu kampung kami karena bisa utang, Pak. Paling laris, meski belum tentu uang langsung ngumpul apalagi harus pakai tukang tagih (dept collector).

Siangnya, sekitar pukul 14.00 ada tukang cukur keliling naik sepeda Pak. Orang Tionghoa-Kong Hucu. Dua orang lagi. Seorang yang aku dan kawan-kawan suka adalah yang selalu terdengar di ujung jalan, “Gunting rambut, tiauw siput, kena kentut!” Berulang-ulang diucapkan dengan irama khas. Dan dia pun suka bercanda ketika sedang mencukur aku atau kawan-kawanku.

Kawan kecilku, namanya Tong Sen, membantu ibunya berjualan kue. Kue-kue dititipkan di warung-warung pada pagi hari ketika dia berangkat sekolah naik sepeda. Sore, sekitar pukul 17.00 dia akan mengambil lagi di warung-warung. Kalau ada sisa, aku dan kawan-kawan kampung diberi kue itu.

Dan, tidak jauh dari kampung kami, dulu ada orang gila satu-satunya, Tionghoa pula, Pak. Namanya Akiun. Gaya berjalan seperti aparat dengan kayu sebagai tongkat atau senjata. Konon (gosip orang kampung), Akiun gila karena mengencingi sebuah kuburan tua yang sudah tidak jelas. Orang kampung kami tidak seorang pun gila, Pak.  Kami diajarkan tetua kampung, kalau mau pipis di alam terbuka (kebun atau hutan), harus bilang, “Numpang kencing, Tuk (Tuk/Atuk=kakek).”

Di sekolahku dulu, Pak, ada kawan sekolah (Etnis Tionghoa) yang berseragam sekolah lusuh, bahkan berhenti sekolah (Kelas 1 SMP) karena berasal dari keluarga miskin. Namanya Tet Khiong. Kecil-kurus. Kelihatan sekali kurang gizi. Ayahnya pernah jadi nelayan tapi kemudian lumpuh karena terkena sengatan ikan kecos (ikan pari kecil yang bertanduk dekat ekor). Dia berlima atau enam saudara, dan dia sulung.

Penjaga bahkan pesuruh SMP kami bernama Apuk adalah orang Tionghoa. Apuk tidak pernah membantah ketika disuruh apa pun oleh kepala sekolah dan guru. Disuruh beli sayur-mayur untuk seorang guru Melayu pun, Apuk berangkat ke pasar berjarak 1,5 km naik sepeda genjot. Tidak jarang Apuk ‘kerjain’ kawan-kawanku, baik kawan Tionghoa, Melayu, Batak, Flores, dan Jawa. Tidak pernah ada prasangka sosial, Pak. Juga sekolah tempat  bapakku mengajar di STM Sungailiat adalah orang Tionghoa.

Ya, Bapak JK bisa bayangkan, bagaimana seandainya sekolah Bapak dulu ada penjaga bahkan pesuruh sekolah beretnis Tionghoa, bahkan seandainya dulu keluarga Bapak memiliki asisten rumah tangga beretnis Tionghoa?

Bapak pun pasti bisa membayangkan, bagaimana masa kecilku dibentuk dalam lingkungan sosial yang menyenangkan tanpa terkontaminasi prasangka sosial dari stereotipe terhadap orang Tionghoa-Kong Hucu.

Ketahuilah, Pak, tidak sedikit buruh kasar, dari pencetak batubata yang berpanas-panas hingga pramuniaga di kawasan pertokoan Tionghoa adalah orang Tionghoa sendiri. Sebagian rumah mereka masih semi permanen pula, Pak.  

Dulu, ketika aku dan kawan-kawan kampung sedang musim main pangkak (adu buah karet), aku sering mencari buah karet di dekat tempat tukang kayu yang beretnis Tionghoa. Makan siang mereka, dengan mataku sendiri kulihat, berupa nasi berlauk ikan asin kecil, Pak. Bukan satu-dua kali kulihat, Pak.

Ada juga kawan Tionghoa-ku, cuma beda kampung, nyaris saban hari makan bulgur, Pak. Apa itu bulgur, Bapak pasti tahu.

Ketahuilah, Pak, generasi awal etnis Tionghoa di Bangka bukanlah berkelas pedagang apalagi pengusaha-pebisnis kelas kakap-hiu-paus. Bukan pula kelas terpelajar dengan kemampuan intelektual serba luar biasa, Pak. Rasa senasib orang Melayu-Tionghoa Bangka sebelum 1900-an terbentuk karena mayoritas orang Tionghoa di Bangka adalah buruh/kuli/pekerja kasar, baik di perkebunan, pertambangan timah (kami mengenal satu istilah usang, “singkek parit”), kuli angkut barang, maupun pembuatan bangunan.

Buruh Tionghoa beberapa kali memberontak terhadap Kolonial Belanda. Rasa senasib itulah yang kemudian menyatukan Melayu-Bangka dan Tionghoa dalam persaudaraan nasional melawan Kolonial Belanda. Rumah Mayor Chung A Thiam (orang Tionghoa-Kong Hucu) di Muntok, Bangka Barat, menjadi salah satu saksi sejarah, dimana Belanda menjadikan Chung A Thiam sebagai seorang mayor tentara Belanda untuk meredam pemberontakan orang Tionghoa.

Sejarah itu tertulis dalam buku sejarah Babel, Pak. Aku pernah membacanya di Perpustakaan Daerah Sungailiat. Mungkin ada di Perpustakaan Nasional R.I.

Sekian tahun silam pun, sekitar 1998, ada segelintir pendatang hendak menghasut orang Melayu-Bangka dengan kesesatan nasional itu tetapi tidak berhasil menjadi peristiwa genting, Pak. Sebab, kesatuan masyarakat Melayu-Bangka dan Tionghoa-Bangka sudah terbentuk lebih satu abad.

Yang tidak kalah kesatuannya adalah pernikahan campuran antara Melayu dan Tionghoa. Biasanya, orang Tionghoa-Kong Hucu akan pindah agama (mualaf). Salah seorang mantri sunat yang terkenal adalah Om Nasuwan (kebetulan orang Kampung Sri Pemandang Atas), yang juga menyunat aku (libur kenaikan Kelas 6 SD), Pak. Pada 2012 Om Nasuwan pernah memamerkan “barang bukti” milik seorang mualaf yang sudah dewasa. Om Nasuwan tertawa ngakak, Pak.

Pak JK, orang Babel pun paham, untuk bisa makan, haruslah bekerja keras. Beras bukanlah hasil produk pertanian di tanah Babel yang memiliki kadar asam tinggi. Persawahan baru dirintis pasca-2000. Ada pun ladang padi milik keluarga Melayu-Bangka, dan untuk konsumsi keluarga sendiri.

Sedangkan orang Tionghoa di Bangka pada zaman itu tidak memiliki sawah, Pak. Bagaimana bisa membeli beras? Sebagian orang Tionghoa bisa membeli beras persis seperti yang dikatakan oleh Hanna Fransisca, “… cerita beras di dapur saja harus utang dulu ke warung, pinjam sama tetangga.” Seperti Tet Khiong, atau ada lagi yang hanya menyantap bulgur, Pak.

Kawan SMP-ku, Jat Nen, orang Tionghoa-Kong Hucu di Jalan Laut, adalah pekebun sayur biasa, Pak. Ada juga tetanggaku, keluarga Tionghoa bernama Aciang (Kampung Batu), pekebun sayur biasa, yang aku tahu karena aku sering mancing di area kebun sayur mereka. Anak-anak mereka tidak ada yang bergelar sarjana semacam aku ini, Pak. Jat Nen dan keluarga Aciang memang rajin menggarap kebun sayur, Pak.

Ada lagi kawan SD-ku, namanya Cong Yang, pada 2016 aku datangi ketika dia sedang berjualan ikan di pinggir jalan dekat Kantor Polres Sungailiat. Tidak ada dinding dan atap. Hanya berupa meja panjang. Aku mendatanginya untuk kembali mengingatkan padanya bahwa kami pernah satu kelas ketika SD, Pak. Mungkin dia lupa tetapi aku sangat ingat, apalagi rumah orangtuanya (rumah papan lho, Pak) dekat SD kami, dan ibunya berjualan jajanan di dekat sekolah kami.

Pak JK pasti tahu mantan gubernur Babel bernama Eko Maulana Ali yang pernah mengalahkan Ahok di Pilkada Babel 2007, ‘kan? Pak Eko (mantan murid bapakku di STM Sungailiat) adalah anak angkat orang Tionghoa-Kong Hucu, Pak. Pak Eko dulu disekolahkan oleh keluarga Tionghoa-Kong Hucu, yang hanya memiliki satu anak perempuan. Ayahnya Pak Eko sangat loyal (rajin, jujur, tidak banyak tingkah, dan lain-lain)pada majikannya sehingga anaknya (Pak Eko) diangkat sebagai anak, Pak.

Aku tahu kisah nyata itu dari orangtuaku, Pak. Ibuku masih hidup, Bapak bisa bertanya langsung mengenai Pak Eko, termasuk mantan asisten rumah tangga orangtuaku.

Pada Pilkada Babel 2007 keluarga kami (orangtua kandung dan angkatku Kristen) di Bangka tentu saja memilih Pak Eko (Melayu-Islam), bukannya Ahok (Tionghoa-Kristen), Pak. Apa lagi kalau bukan karena Pak Eko mantan murid bapakku. Sederhana saja itu.

Lucunya, lawan Pak Eko di Pilkada Babel 2007 bernama Ahok yang Tionghoa-Kristen itu malah anak angkat orang Melayu-Belitung, Pak. Kenyataan Babel memang lucu sekaligus guyub-kekeluargaan-kebangsaan, ‘kan, Pak?

Duh, Pak JK, kasihan lho, masih banyak orang Tionghoa yang berekonomi minimalis, dan tidak saja di Bangka dan Belitung. Meski minimalis, mereka tidak lagi memberontak, menghujat pengelola negara, atau menghidupi kedengkian terhadap sesama warga negara Indonesia karena mereka sangat bangga jadi warga negara Indonesia. Mereka memilih bekerja keras, bukannya menyalahkan-nyalahkan tanpa henti.

Aku masih bisa melihat orang-orang Tionghoa-Kong Hucu yang bekerja keras sewaktu mudik 2016 karena bapakku meninggal. Selain Jat Nen, atau Cong Yang, ada juga penjual susu kedelai (thefu sui) dengan sebuah gerobak di Pasar Mambo Sungailiat pada malam hari, Pak. Susu kedelai buatannya enak banget lho. 

Dan kalau sebagian orang Tionghoa-Kong Hucu kaya raya, ya, tidak berbedalah dengan etnis-etnis lainnya dan penganut semua agama di Indonesia. Semua pasti karena bekerja keras. Bukankah Tuhan memiliki hak preogatif mutlak untuk memberi rezeki kepada semua manusia, baik beragama maupun tidak beragama (ateis), bahkan para keluarga koruptor sekalipun?

Pak JK yang baik,
aku mencintai Indonesia dengan segala suku bangsa-etnis dan agama-ateis yang ada. Keluarga besar kami sudah bercampur etnis. Jawa, Melayu-Bangka, Tionghoa-Bangka, Palembang, Minang, Bugis, Mandar, Madura, dan lain-lain. Mayoritas keluarga besar kami beragama Islam, Pak, dan mayoritas tetanggaku di Bangka beragama Islam. Aku bersekolah menengah atas dan kuliah di Yogyakarta, dan kawan-kawanku juga berasal dari aneka suku. Aku kini tinggal di Kalimantan Timur, dan bergaul dengan aneka suku bangsa, Pak. Bahkan keluarga istriku adalah campuran (Tionghoa, Dayak, Bugis, dan Filipina). Aku sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas realitas takdirku ini. Aku bangga jadi orang Indonesia, Pak, meskipun tidak mampu bertamasya keliling Indonesia.

Doaku, Bapak JK selalu sehat sehingga bisa berpiknik selama 6 bulan di Bangka. Jangan lupa singgah di warung kopi Co dekat tugu Adipura Sungailiat. Asyik banget lho, Pak. Tapi yang terpenting, demi NKRI yang heterogen dalam arti sebenar-benarnya, Pak.

Terima kasih, Pak JK. Salam damai sejahtera selalu dari aku.

*******
15 Mei 2017


(terlambat pajang karena jaringan Telkom sedang bermasalah)

Sabtu, 29 April 2017

Bunga-bunga Ungkapan Rasa

(sumber foto : http://www.suara.com/news/2017/04/29/081100/fadli-zon-dapat-kiriman-bunga-pembalasan-dari-pendukung-ahok)

Ungkapan “katakan dengan bunga-bunga” (say with flowers) seringkali dikaitkan dengan suatu penyampaian rasa simpati atau suka terhadap siapa atau apa. Setangkai bunga, seringnya, ditujukan pada seseorang untuk menyatakan rasa suka, ikut berbahagia, dan seterusnya. Karangan bunga, tentunya, berbeda lagi, termasuk pembukaan suatu tempat usaha.

“Bunga-bunga selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna; bunga-bunga adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa,” tulis Robert Adhi (Kompas,26 April 2017), yang mengutip kalimat Luther Burbank. Tulisan tersebut berkaitan dengan banjir karangan bunga di Balaikota Jakarta yang tertuju kepada Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Wakil Gubernur Djarot Hidayat dalam masa penghujung jabatan mereka pasca-kekalahan Pilkada 2017 putaran kedua.

Banjir karangan bunga. "Sampai pukul 14.20 WIB, karangan bunga yang kita terima sudah 4.206 buah," kata Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri, Mawardi kepada wartawan, Jumat (28/4/2017). Sebelumnya, pada 26 April, Mawardi menyebutkan angka sekitar 1.000.

Itu baru di Jakarta. Masih ada lagi yang jauh di luar Jakarta, meski jumlahnya tidaklah banyak. Dan itu merupakan suatu pengungkapan rasa yang luar biasa, dan memang di luar kebiasaan, jika dikaitkan dengan masa akhir jabatan beserta kekalahan yang pernah dialami gubernur sebelum-sebelumnya.

Setangkai bunga saja sudah terlihat indah, apalagi dirangkai dalam sebuah karangan, yang berdampak psikologis “selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna” dan berfilosofi “bunga-bunga adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa”. Terlebih jika bernilai sekian ratus ribu rupiah per karangan.

Tetapi, ternyata, sesuatu yang indah bagi seseorang tidaklah menjadi indah bagi orang lain. Rasa suka seseorang terhadap siapa tidaklah selalu berdampak suka bagi orang lain. Seorang pemuda memberi setangkai bunga mawar untuk seorang pemudi yang disukainya memang tidaklah selalu membuat pemuda-pemudi lainnya suka. Cemburu, iri hati, atau dengki, tentulah begitu sebab tidak sukanya.

"Saya rasa masyarakat sudah tahulah. Itu bisa bukan efek positif yang didapat, tapi efek negatif, apalagi kalau ketahuan sumbernya itu-itu juga. Jadi pencitraan murahan," kata Politikus Fadli Zon di gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017).

Efek negatif. Negatif, sepakat atau tidak, bukanlah suatu efek, dampak, atau hasil sampingan. Negatif sudah berasal dari dalam diri seseorang, meski sebenarnya lingkup wewenangnya jauh lebih luas (nasional) daripada secuil wilayah (regional).

Bunga yang indah bisa menjadi tidak indah bagi seseorang yang selalu menghidupkan sisi negatif hidupnya terhadap orang lain. Tentu berbeda apabila seseorang penghayat negatif tersebut mendapat karangan bunga bahkan ribuan dari para penyuka atau simpatisannya, ‘kan? Sayangnya jika seseorang tersebut adalah tokoh publik, yang disebut sebagian orang sebagai “tokoh panutan” (public figure). Apalagi, selama sekitar 2-3 tahun sebagian orang terdoktrin bahwa Ahok bermulut comberan, dan sangat tidak patut menjadi panutan sehingga Ahok kalah dalam pilkada kemarin.

Doktrin tentang bunga. Doktrin tentang suka. Doktrin tentang positif-negatif. Doktrin tentang tokoh atau pejabat publik. Doktrin tentang comberan. Dan doktrin-doktrin umum lainnya. Semuanya seringkali mendadak berhadapan dengan kebalikan dari doktrin umum. Buktinya apa, coba?

Pada 28 April sebuah karangan bunga masuk gedung DPR RI, bukan lagi Balaikota Jakarta. "Dear BP. Fadli Zon Mohon Titip Bunga Di sini yaa!! Karena Balaikota Sudah Penuh. Tim Pencitraan," demikian tulisan dalam papan bunga itu.

Ternyata “katakan dengan bunga” tidak bisa lagi mewakili satu ungkapan rasa, dan hanya terdaktrin pada satu nilai. Bukankah beginilah realitas hidup dengan rasa sering berbeda antarorang hingga sebagian orang pun sering pula mengungkap rasa dengan frasa “rasain lu!”?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 2017

Kamis, 27 April 2017

Seseorang adalah Prasangka

Seseorang memiliki potensi untuk berprasangka karena setiap orang (manusia) merupakan makhluk sosial (bergaul dengan orang lain). Berprasangka terhadap orang lain, sekelompok orang, bahkan, konyolnya, berprasangka terhadap dirinya sendiri.

Proses terbentuknya prasangka (prejudice) dapat terjadi ketika seseorang berada dalam suatu kelompok. Kelompok pertama adalah rumah, kedua adalah lingkungan luar rumah, dan seterusnya, yang kesemuanya di luar rumah, bahkan jauh entah di mana, karena perkembangan wilayah sosialnya.

Pengertian “prasangka” atau “purbasangka”–istilah ini sangat jarang dipakai, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah  pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak. Yang sering juga disebutkan dengan “syak wasangka”.

Kata “syak”, menurut KBBI, adalah rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). Sedangkan “wasangka”, masih KBBI, adalah kebimbangan hati; rasa khawatir; kecurigaan; syak; sangka.

Konon, istilah “prasangka” berasal dari istilah asing, prejudice. Pada awalnya istilah ini merupakan sikap rasisme, yang merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras, semisal kelompok tertentu.

Ras adalah kategori individu yang secara turun temurun memiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu. Pengertiannya tidak berkaitan dengan ciri sosiokultural, misalnya kebudayaan, adat, dan sejenisnya. Misalnya, jika menyebut ras Negro, berarti yang dimaksud bukan sifat kebudayaan kelompok tersebut seperti pandai bermain musik, melainkan ciri fisiknya, seperti warna kulitnya hitam atau bentuk rambutnya keriting.

Mengenai “prasangka”, “prasangka sosial”, dan seterusnya dapat dicari melalui mesin pencari semisal Google. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurai “prasangka” berdasarkan definisi para ahli seakan mengajari ikan hiu menyelam, melainkan sesuai dengan judul “seseorang adalah prasangka”.

Meski pengertian KBBI mengenai prasangka cenderung bersifat negatif (kurang baik) dari asal istilah prejudice, pengertian secara umum masih memberi tempat kepada sifat positif. Tentu saja hal ini dikembalikan pada asal kata “sangka”, yang menurut KBBI, adalah duga; kira; terka. Tetapi ketika kata “sangka” mendapat imbuhan, bisa berubah arti (makna; maksud), semisal “tersangka”, yang sudah menjadi negatif, dan masuk ranah hukum.

Prasangka negatif atau prasangka positif bisa serta-merta terjadi. Misalnya, ketika seseorang menerima amplop dari orang lain. Prasangka negatifnya berbunyi, “Seseorang disogok.” Prasangka positif berbunyi, “Seseorang mendapat surat penting.” Misalnya lagi, ketika seseorang menyanyi dengan suara merdu di kamar mandi. Prasangka negatifnya, “Seseorang sedang pamer suara merdunya.” Prasangka positifnya berbunyi, “Seseorang gemar menyanyi, dan tekun berlatih.”

Lantas, seseorang adalah prasangka, apa maksudnya?

Pertama, dalam status kemanusiaan (makhluk sosial), pemikiran seseorang sangat dipengaruhi bahkan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (bergaul). Pengaruh ini membuat seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain atau kelompok lain (di luar lingkup pergaulannya). Artinya, dalam diri seseorang sudah terdapat prasangka.

Kedua, seseorang mendapat prasangka dari orang lain ataupun kelompok lain. Apakah seseorang sedang terlihat secara fisik atau sedang terdengar karena menyanyi, bahkan malah sedang tidak terlihat atau terdengar pun, seseorang bisa mendapat prasangka dari orang lain atau kelompok lain.  

Ketiga, seseorang berprasangka terhadap dirinya sendiri. Ini yang juga sering terjadi, semisal ketika seorang diri di depan cermin, entah sedang bersiap untuk ke mana, entah pula baru pulang dari mana. Apa nanti prasangka orang lain, bagaimana nanti prasangka orang lain, mengapa ada prasangka ini-itu, dan seterusnya, merupakan prasangka yang lazim mengemuka pada dirinya sendiri.

Ketiga hal inilah yang selalu terjadi sehingga judul tulisan ini “Seseorang adalah Prasangka”. Apakah prasangka positif-negatif dari dirinya sendiri, pergaulannya (kelompoknya), orang lain, atau kelompok lain, siapa pun mengalaminya. Bahkan, setelah seseorang meninggal dunia sekalipun, prasangka justru tetap hidup.

Beginilah realitas sosial di dunia. Ketika seseorang masih berupa janin dalam kandungan, prasangka sudah lahir terlebih dulu melalui pendapat orang lain mengenai dirinya. Ketika lahir menjadi seseorang, prasangka berubah, baik berkurang maupun justru bertambah. Ketika meninggal dunia bahkan sekian waktu sesudahnya, seseorang masih bisa mendapat prasangka tambahan. Begitulah prasangka adanya.    
    

*******
Panggung Renung Balikpapan, 26 April 2017

Jumat, 21 April 2017

Sebab-Musabab Kekalahan Ahok

Saya senang Ahok akhirnya kalah dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua, 19 April. Senang karena sebelumnya kecewa, dan kekecewaan itu telah saya tuliskan dalam beberapa judul sampai saya mengatakan “maha benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”.

Memang, status saya adalah orang nun jauh di balik seberang entah mana yang kurang kerjaan untuk menyoroti Ibukota. Tetapi, ya, di situlah posisi saya yang subyektif-independen-sama sekali tidak memiliki kepentingan apa pun, termasuk mengenai Ahok dan kekalahannya.

Saya memiliki pendapat sendiri mengenai Ahok, yang akhirnya kalah, dan saya pun senang. Barangkali atau pasti Pembaca menghakimi saya begini-begitu bahwa saya telah menghakimi Ahok. Silakan saja; Pembaca bebas pula menghakimi saya.

Sebab utama-terutama kekalahan Ahok adalah angkuh-sombong-songong. Angkuh-sombong-songong?

Saya melihat Ahok memiliki kepercayaan diri (confidence) yang tinggi sekali. Mungkin karena ia bersih dari tindak korupsi yang merupakan tradisi negatif sebagian besar pejabat publik. Sejak menjadi bupati Belitung Timur, anggota DPR-RI, dan wakil gubernur bahkan gubernur menggantikan Jokowi yang naik jadi presiden, tidak mudah melibatkan Ahok dalam kasus-kasus berujung penjara bagi pihak-pihak terlibat. Kasus Sumber Waras pun tidak mampu menyeretnya sebagai tersangka, apalagi terpidana.

Di lain sisi, saya menganggap sikap percaya diri tersebut didukung oleh kemuakannya terhadap budaya buruk bernama korupsi sejak Ahok belumlah siapa-siapa. Praktik-praktik korupsi, diskriminasi, intimidasi, kemunafikan akut, dan sekitarnya merupakan pemandangan setiap hari dialami, barangkali.

Semua perilaku buruk nan busuk yang setiap hari tampil di hadapannya, tentu saja, sangat memuakkan. Saya pun muak tradisi busuk yang sangat lestari itu. Ketika Ahok mendapat kesempatan tampil secara konstitusional, baik ketika menjadi pejabat publik maupun wakil rakyat, di situlah kesempatannya untuk mengumbar hal-hal yang memuakkannya.

Prestasi-prestasi Ahok dalam perwujudan program-program ini-itu, dan terobosan-terobosan yang terbukti bisa dilihat hingga sebagian kaum marjinal benar-benar bisa mendapatkan sesuatu yang semestinya, sampai disambut hiruk-pikuk pujian se-Indonesia raya, merupakan unsur penting yang andil dalam peninggian rasa percaya diri Ahok yang justru menjadi bumerang yang mematikan. Mengapa? Semua itu cenderung membutakan-menulikan, dan melumpuhkan daya kritis yang sepadan. Ingat, tidak ada manusia yang sempurna.  

Yang semakin meninggikan rasa percaya diri sekaligus pengumbaran segala kemuakan itu adalah kedekatannya dengan Jokowi, yang sedang menjadi pahlawan bagi sebagian rakyat Indonesia tertindas selama sekian puluh tahun. Waktu itu dia masih wakil gubernur, bisa dilindungi oleh atasannya (Jokowi), apalagi ketika Jokowi menjadi presiden.

Persoalannya, Ahok tidak belajar pada Jokowi mengenai pengendalian rasa percaya diri sekaligus kemuakan berlebihan, yang dalam hal ini melalui omongan. Atau, jauh sebelum bersama Jokowi di DKI Jakarta, Ahok tidak rajin membuka Amsal Salomo, padahal ia Kristen. Mungkin rajin tetapi tidak menghayatinya.

Kata orang, segala sesuatu  yang berlebihan tidaklah baik. Begitu juga dengan kepercayaan diri dicampur kemuakan yang berlebihan. Hal yang paling mudah terungkap adalah melalui omongan. Omongan atau mulut merupakan salah satu gerbang dari benteng jiwa seseorang.

Omongan Ahok sangat tidak terkontrol. Luapan percaya diri dan kemuakan berlebihan melepaskan kekang pada lidah-mulut-omongannya. Saya terlalu sering membaca dan mendengar melalui televisi dan internet tentang pernyataan Ahok yang selalu menanggapi segala sesuatu dengan selepas lidahnya, meskipun status sebagai pejabat publik haruslah lebih berhati-hati agar tidak membuat suasana semakin tidak terkendali.

Sekali lagi, pejabat publik. Bukan seorang nabi Perjanjian Baru, dan rakyat biasa semacam saya. Artinya, status sosial harus benar-benar dipahami ketika berhadapan dengan wartawan, elit-elit kelompok tertentu, dan rakyat biasa, sehingga pengontrolan (pengendalian) omongan menjadi sangat darurat dalam situasi yang sangat darurat pula (rival politik selalu menunggu kesempatan!).

Beberapa hal yang juga saya catat-tuliskan adalah mengenai reklamasi, meninggalkan TemanAhok, mulut comberan minta didoakan menjelang debat, hal memberi, dan lain-lain. Selain itu, yang tidak saya ulas adalah luapan kemarahannya terhadap beberapa orang tanpa memikirkan dampak baliknya, yang di kemudian hari dipajang oleh para pendukung rivalnya menjelang Pilkada 2017.

Yang turut menambah kisruh suasana adalah dukungan para pemujanya, yang seperti awal saya katakan “Maha benar Ahok dengan segala kata dan perbuatannya”, dan saya justru dicaci-maki habis-habisan oleh mereka. Padahal saya, yang bukan siapa-siapa, bertujuan untuk mengingatkan Ahok, termasuk ketika saya memakai ucapan J. Kristiadi, “Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri.”

Ya, Ahok dikalahkan oleh dirinya sendiri. Sebagian pendukungnya yang memaki saya justru sebenarnya terlibat secara mutlak dalam kekalahan itu karena secara langsung mereka mendukung Ahok untuk semakin tidak mampu mengelola dirinya sebagai seorang pejabat publik yang sedang ditunggu kejatuhannya. Mereka pendukung abhkan sebagian pemilih emosional (salah tetap benar/dibenarkan), bukan rasional (kritis).

Melalui tulisan kesekian ini saya tidak sedang bermaksud mengajari Ahok seibarat mengajari buaya berenang di sungai, terlebih Ahok sudah mengalami kekalahan dalam Pilkada 2017. Saya tidak memiliki kepentingan apa-apa. Menang-kalah Ahok tidaklah menjadi apa-apa (material dan status sosial) bagi saya. Tetapi, sebenarnya Alkitab–kitab suci agama Ahok–sudah mengingatkan sejak jauh sekian abad silam.  

Pertama, Amsal-amsal Salomo.
a. “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (10:19)
b. “Orang jahat terjerat oleh pelanggaran bibirnya, tetapi orang benar dapat keluar dari kesukaran.” (12:13)
c. “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya , siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (13:3) 
e. “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya , orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (17:27-28)
f. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (18:21)

Kedua, Kitab Yakobus.
a. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (1:26)
b. “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api ; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” (3:2-13)

Ketiga, cerita Yohanes Pembaptis. Di hadapan beberapa orang Yohanes Pembaptis pernah menegur Herodes Antipas–penguasa ketika itu, “Tidak halal kamu mengambil istri saudaramu.” (Markus 6:18). Selain itu, Yohanes memberi tahu Herodes dengan sejujurnya. Juga menunjukkan kejahatan-kejahatan lainnya yang Herodes lakukan (Lukas 3:19-20).

Keempat, cerita Yesus Kristus. Yesus Kristus akhirnya disalibkan karena, terutama, dipidana telah menista ajaran Yahudi, yang salah satunya adalah menghujat Tuhan-nya Yahudi. Barangkali bisa dipahami pula bahwa Yesus Kristus ‘dikorbankan’ melalui persekongkolan elit agama, rakyat yang terhasut, dan penguasa pada saat itu.    

Keempat itu saja yang bisa saya uraikan, berkaitan dengan Ahok, dan kekalahannya dalam Pilkada 2017. Di luar itu, saya tidak berani mencurigai Ahok dengan hal-hal yang tidak pernah saya lihat (baca) dan dengar melalui media sebab kemungkinan kecurigaan saya keliru besar.   

Apa yang saya sampaikan ini bukanlah berarti saya lebih mampu menjaga perkataan atau lebih suci dalam perkataan dibandingkan Ahok. Saya bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan Ahok. Saya hanya menyesalkan sikap Ahok yang berlebihan akibat keangkuhannya, dan, kemungkinan besar Ahok tidak mau menimbang-nimbang nasihat siapa pun. Hanya menjelang putaran kedua Pilkada 2017 barulah ia mulai berubah. Sungguh sangat terlambat, jika tujuan perubahan hanya demi Pilkada itu. Sebab, keangkuhan mendului kehancuran, dan tinggi hati mendului kejatuhan.

Akan tetapi, yang terpenting dari semua itu adalah takdir–kehendak Tuhan. Apa pun analisis dengan segala dalil, takdir paling berkuasa. Rencanamu bukan rencana-Ku. Jalanmu bukan jalan-Ku. Kekalahan bukanlah segalanya hingga hidup terasa kiamat. Saya percaya, Ahok justru akan mendapat posisi dan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya jika Ahok benar-benar menyadari siapa dirinya yang sejati sebab semua yang terjadi merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Pengasih-Penyayang.

*******
Panggung Renung Balikpapan, 21 April 2017

Selasa, 24 Januari 2017

Jumat, 06 Januari 2017

Sebuah Doa yang Hanya Berlaku pada 13 Januari 2017

"Tolong bapak-ibu semua doakan saya supaya bisa mengendalikan diri di debat 13 Januari nanti. Doakan saya agar mulut comberan saya tidak keluar," katanya*.

Logika perkataannya, “Tolong doakan supaya tidak bisa mengendalikan diri sebelum dan setelah debat 13 Januari nanti. Doakan agar mulut comberan tetap meluber sebelum dan setelah debat itu.” Bagaimana, doa (pengendalian diri, dan mulut comberan tidak keluar) untuknya hanya pada waktu, 13 Januari?

Sebelum 13 Januari, berarti, 12, 11, 10, 9, 8, dst., dia (pengendalian diri, dan pemasungan mulut comberan) tidak perlu didoakan alias dibiarkan saja apabila gagal mengendalikan diri, dan mulut comberannya meluber. Dan, setelah 13 Januari, atau 14, 15, 16, 17, 18, dst., dia pun tidak perlu didoakan alias dibiarkan saja apabila gagal mengendalikan diri, dan mulut comberannya meluber.

Atau, sebelum dan setelah debat 13 Januari, perkataannya, "Jangan doakan saya agar tidak bisa mengendalikan diri. Dan jangan doakan saya agar mulut comberan saya bisa keluar."

Patut diduga, doa yang dimintanya itu berlaku hanya pada acara debat, 13 Januari 2017. Sebelum dan setelah 13 Januari itu, dia bebas meliarkan diri dan mulut comberannya meluber-luber, ya, seperti biasalah, dan tidak perlu didoakan apa-apa berkaitan dengan pengendalian diri-mulut comberan.

Doa hanya untuk acara debat, 13 Januari 2017. Tidak perlu doa selain pada acara atau tanggal tersebut. Di luar 13 Januari, biarkanlah mulut comberannya meluber ke mana-mana, dan jangan didoakan.

Begitu kira-kira logika kalimat dari perkataannya, “Tolong bapak ibu semua doakan saya supaya bisa mengendalikan diri di debat 13 Januari nanti. Doakan saya agar mulut comberan saya tidak keluar."

Sebaiknya dia mendatangi pendetanya, dan minta diperbarui, daripada membiarkan mulutnya menjadi mulut comberan pada waktu sebelum dan sesudah acara debat, 13 Januari.
Lho, mengapa?

Yang sangat mungkin terjadi dalam masa kepemimpinannya adalah dia memerintahkan secara langsung melalui mulutnya sendiri kepada para bawahannya (anak buahnya) untuk melakukan hal-hal yang sama dengan air comberan alias melakukan sesuatu yang sama dengan comberan (kotor, bau bahkan busuk, dll.). Perintah yang kotor. Perintah yang busuk. Perintah yang bikin onar, kecuali ada yang menganggap comberan sebagai bagian penting dalam kebutuhan makan-minum sehari-hari.

Ya, sebaiknya dia segera melakukan konsultasi dengan pendetanya. Bagaimana dia mampu mengendalikan pemerintahan daerah, termasuk situasi fisikal dan sosial, dengan baik dan benar jika dia sendiri tidak berdaya mengendalikan diri dan mulutnya sendiri, bahkan dirinya sendiri, ‘kan?

Persoalan utama bukanlah pada mulut tetapi 1) comberan dalam dirinya (jiwa), 2) ketidakberdayaan mengendalikan gejolak dalam diri, dan 3) akhirnya pasti gagal mengendalikan mulutnya. Betul, tidak?

Salomo sudah mengingatkan melalui Amsal 21:23, "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." Kesukaran yang terjadi, dan bersifat massif adalah dalam Peristiwa 411 dan 212. Apakah masih kurang sukar? Dan itu semua gara-garanya apa? Kebijakan atas penggusuran? Kebandelan atas reklamasi? Atau, gara-gara Monas diperbolehkan menjadi tempat gantung diri elit politik?

Juga dalam Amsal 21:23, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Kali ini bukan ‘merebut’ kota, melainkan Ibukota alias provinsi. Tanpa penguasaan diri, bagaimana nekat minta didoakan hanya untuk 13 Januari?

Kemudian dalam Matius 15: 17-18 Yesus Kristus mengatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.”

Mulut comberan, patut diduga
pula, bukanlah mulutnya yang seperti comberan tetapi comberan itu berasal dari hatinya. Comberan dalam hati itu pun keluar melalui mulutnya.

Dalam Yakobus 3:12 tertulis, “Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”

Bagaimana dengan mata air bersih (sumber air tawar) jika mengeluarkan air comberan? Berarti ada yang tidak beres, ‘kan?

Sebenarnya masih banyak prinsip-prinsip pengendalian diri dan mulut yang tertulis dalam ayat Alkitab, yang sama sekali tidak diindahkan olehnya. Meski sudah menyadari (pakai minta didoakan), tetap saja dia begitu permisif untuk minta doa yang berlaku satu hari (13 Januari), bukannya seterusnya agar dia tidak bertindak semena-mena gara-gara gagal mengendalikan diri dan mulut comberannya.

Oleh karena itu, seperti telah disinggung, sebaiknya dia mendatangi pendetanya, dan minta diperbarui, daripada membiarkan mulutnya menjadi mulut comberan pada waktu sebelum dan sesudah acara debat, 13 Januari. Pengendalian diri dan mulut comberan tidaklah cukup hanya terjadi pada acara debat, 13 Januari 2017. Melainkan pula lebih luas jangkauan waktunya.

Mendatangi pendetanya, atau gembala di tempatnya beribadah, tentu saja, merupakan alamat konsultasi (konseling) yang tepat. Tidak perlu menggunakan pesawat terbang, yang bakal menyita sedikit APBD. Itu pun kalau saja dia tidak merasa dirinya lebih pintar-cerdas dibanding pendetanya lho, ya?

Bagaimana? Mudah, dan sederhana, ‘kan?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 5 Januari 2017


*) https://www.merdeka.com/jakarta/ahok-doakan-agar-mulut-comberan-saya-tidak-keluar-saat-debat.html?fb_comment_id=fbc_1448448085196013_1449995318374623_1449995318374623

Pedasnya Kado Awal Tahun Baru

Saya termasuk penggemar cabai, dan cabai biasa-biasa saja. Bisa secara sederhana, yaitu makan nasi dengan sesekali menggigit dan mengunyah cabai. Bukan sekadar selera pribadi tetapi kebiasaan semacam itu juga pernah dilakukan oleh ayah saya.

Ceritanya, suatu hari ayah saya pulang dari tempat kerja sekitar pukul 13.30, dan bersiap untuk makan. Karena tidak ada sambal, beliau bergegas ke samping rumah. Di situ terdapat tanaman cabai, dan sedang matang buah-buahnya. Beliau memetik sebanyak tiga butir, meletakkan pada mangkuk kecil berisi air, sebentar mencuci, lalu makanlah beliau dengan asyik.

Hal-hal lain berhubungan dengan makan dengan selingan cabai secara sederhana adalah ketika saya berada di Kupang, N.T.T., selama sekian bulan. Seorang kawan makan nasi dengan selingan cabai dan sedikit garam, atau istilahnya “garam-cabai”. Makannya dengan cara unik seperti masa kecil saya makan, semisal jambu, dan mencocolnya pada garam-cabai tetapi cabai digerus bersama garam. Sementara kawan saya itu mencocol cabai pada garam.

Berikutnya, sambal kecap. Kecap manis, bawang merah, dan cabai. Bawang merah dan cabai diiris-iris, lalu dicampurkan dalam kecam seukuran mangkuk kecil. Tentunya ini sudah tidak terlalu sederhana. Saya pun menyukainya, terutama dengan irisan bawang yang bisa memberi kesan rasa tersendiri.

Yang juga penting dalam menikmati mi instan adalah dengan adanya irisan cabai. Aroma cabai yang muncul bersama kuah mi instan sangat sensasional. Alangkah sedapnya!

Begitulah mudahnya. Selera makan dengan adanya cabai, nikmat sekali. Cukup tiga butir, saya sudah menikmati makanan saya dengan penuh ucapan syukur.

Yang tidak kalah mudah, sebenarnya, adalah menanam cabai. Satu butir cabai memiliki biji lebih dari sepuluh butir. Cabai matang, semisal merah, bisa secara mudah dikembangbiakkan. Medianya tidak perlu seluas satu hektar. Pokoknya mudah deh.

Di rumah saya pun tanaman cabai mudah ditemui, khususnya di halaman depan. Kalau sedang berselera tinggi pada cabai, saya bisa mendapatkan cabai segar. Intinya, secara pribadi, saya tidak kerepotan mendapatkan cabai ketika hendak makan dengan sensasi pedasnya cabai.

Berkaitan dengan cabai, minggu pertama tahun baru sebagian orang Indonesia mendapat kado yang cukup pedas, yaitu harga cabai yang melejit. Dalam Kompas* tertulis berita, “Di Kalimantan itu sudah Rp 150.000 per kilogram (kg), di Jawa Barat yang sentra cabai saja harganya sudah di atas Rp 100.000 per kg. Kalau di DKI Jakarta memang masih di kisaran Rp 100.000 sampai Rp 110.000 per kg.” Hal tersebut disampaikan oleh  Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri.

Menurut berita Kompas TV**, “Pertama kali di Indonesia, harga cabai menembus rekor tertinggi yaitu Rp 250.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit tiung terjadi di Pasar Induk Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur. Biasanya harga cabai berkisar Rp 30.000-Rp 50.000 per kilogram. Pedagang menduga cuaca buruk sebabkan petani cabai gagal panen.”
      
Berita yang, menurut saya pribadi, sangat ironis, mengingat Kalimantan Timur bukanlah suatu provinsi terpadat di Indonesia. Juga, seperti yang sudah saya singgung, menanam cabai itu sangat mudah. Tetapi mengapa bisa begitu?

Mungkin harus dibedakan antara kebutuhan cabai dalam satu rumah tangga dan dalam satu kepentingan bisnis, semisal bisnis kuliner. Kalau para pebisnis kuliner, minimal pedagang gorengan, seketika merasa betapa pedas harga cabai, itu wajar-wajar saja.

Tetapi, kalau hanya seorang ibu rumah tangga yang membutuhkan capai untuk pelengkap makanan di rumah, sungguh sangat tidak wajar. Apakah sebenarnya situasi ini justru mengungkapkan kemalasan orang-orang menanam cabai?

Sudahlah, tidak perlu repot soal kemalasan siapa, bahkan menyalahkan pemerintah, lalu pemerintah menyalahkan cuaca. Siapa menyalahkan siapa, begitulah intinya. Tidak siapa pun sudi mengakui kesalahan. Dan, kalau selalu menyalahkan, mana solusinya?

Nah, saya memberi solusi sederhana saja. Manfaatkan sedikit lahan di rumah untuk menanam cabai. Cabai pun bisa ditanam dalam pot. Pengelolaannya tidak perlu dengan mesin pembajak seperti di kawasan persawahan. Tidak perlu berkarung-karung pupuk. Tidak perlu repot dengan semprotan obat anti-hama.  

Sederhana, dan mudah, ‘kan?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 6 Januari 2017

*) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/01/05/073100526/harga.cabai.meroket.ratusan.ribu.per.kg.kado.pahit.di.awal.2017.

**) http://tv.kompas.com/read/2017/01/04/5270020183001/harga.cabai.tembus.rekor.rp.250.ribu.per.kilogram