Ungkapan
“katakan dengan bunga-bunga” (say with
flowers) seringkali dikaitkan dengan suatu penyampaian rasa simpati atau
suka terhadap siapa atau apa. Setangkai bunga, seringnya, ditujukan pada
seseorang untuk menyatakan rasa suka, ikut berbahagia, dan seterusnya. Karangan
bunga, tentunya, berbeda lagi, termasuk pembukaan suatu tempat usaha.
“Bunga-bunga
selalu membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna; bunga-bunga
adalah matahari, makanan, dan obat bagi jiwa,” tulis Robert Adhi (Kompas,26 April
2017), yang mengutip kalimat Luther Burbank. Tulisan tersebut berkaitan dengan
banjir karangan bunga di Balaikota Jakarta yang tertuju kepada Gubernur Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok dan Wakil Gubernur Djarot Hidayat dalam
masa penghujung jabatan mereka pasca-kekalahan Pilkada 2017 putaran kedua.
Banjir
karangan bunga. "Sampai pukul 14.20 WIB, karangan bunga yang kita terima
sudah 4.206 buah," kata Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar
Negeri, Mawardi kepada wartawan, Jumat (28/4/2017). Sebelumnya, pada 26 April,
Mawardi menyebutkan angka sekitar 1.000.
Itu baru di Jakarta. Masih ada lagi yang jauh di luar
Jakarta, meski jumlahnya tidaklah banyak. Dan itu merupakan suatu pengungkapan
rasa yang luar biasa, dan memang di luar kebiasaan, jika dikaitkan dengan masa
akhir jabatan beserta kekalahan yang pernah dialami gubernur
sebelum-sebelumnya.
Setangkai bunga saja sudah terlihat indah, apalagi
dirangkai dalam sebuah karangan, yang berdampak psikologis “selalu
membuat orang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih berguna” dan berfilosofi “bunga-bunga adalah matahari, makanan,
dan obat bagi jiwa”. Terlebih jika bernilai sekian ratus ribu rupiah per
karangan.
Tetapi,
ternyata, sesuatu yang indah bagi seseorang tidaklah menjadi indah bagi orang
lain. Rasa suka seseorang terhadap siapa tidaklah selalu berdampak suka bagi
orang lain. Seorang pemuda memberi setangkai bunga mawar untuk
seorang pemudi yang disukainya memang tidaklah selalu membuat pemuda-pemudi
lainnya suka. Cemburu, iri hati, atau dengki, tentulah begitu sebab tidak
sukanya.
"Saya
rasa masyarakat sudah tahulah. Itu bisa bukan efek positif yang didapat, tapi
efek negatif, apalagi kalau ketahuan sumbernya itu-itu juga. Jadi pencitraan
murahan," kata Politikus Fadli Zon di
gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017).
Efek negatif. Negatif, sepakat atau tidak, bukanlah
suatu efek, dampak, atau hasil sampingan. Negatif sudah berasal dari dalam diri
seseorang, meski sebenarnya lingkup wewenangnya jauh lebih luas (nasional) daripada
secuil wilayah (regional).
Bunga yang indah bisa menjadi tidak indah bagi
seseorang yang selalu menghidupkan sisi negatif hidupnya terhadap orang lain.
Tentu berbeda apabila seseorang penghayat negatif tersebut mendapat karangan
bunga bahkan ribuan dari para penyuka atau simpatisannya, ‘kan? Sayangnya jika
seseorang tersebut adalah tokoh publik, yang disebut sebagian orang sebagai “tokoh
panutan” (public figure). Apalagi,
selama sekitar 2-3 tahun sebagian orang terdoktrin bahwa Ahok bermulut comberan,
dan sangat tidak patut menjadi panutan sehingga Ahok kalah dalam pilkada
kemarin.
Doktrin tentang bunga. Doktrin tentang suka. Doktrin tentang
positif-negatif. Doktrin tentang tokoh atau pejabat publik. Doktrin tentang
comberan. Dan doktrin-doktrin umum lainnya. Semuanya seringkali mendadak
berhadapan dengan kebalikan dari doktrin umum. Buktinya apa, coba?
Pada 28 April sebuah karangan bunga masuk gedung DPR
RI, bukan lagi Balaikota Jakarta. "Dear BP. Fadli Zon Mohon
Titip Bunga Di sini yaa!! Karena Balaikota Sudah Penuh.
Tim Pencitraan," demikian tulisan dalam papan bunga itu.
Ternyata “katakan dengan bunga” tidak bisa lagi
mewakili satu ungkapan rasa, dan hanya terdaktrin pada satu nilai. Bukankah
beginilah realitas hidup dengan rasa sering berbeda antarorang hingga sebagian
orang pun sering pula mengungkap rasa dengan frasa “rasain lu!”?
*******
Panggung
Renung Balikpapan, 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar