Seseorang memiliki potensi untuk berprasangka karena
setiap orang (manusia) merupakan makhluk sosial (bergaul dengan orang lain).
Berprasangka terhadap orang lain, sekelompok orang, bahkan, konyolnya, berprasangka
terhadap dirinya sendiri.
Proses terbentuknya prasangka (prejudice) dapat terjadi ketika seseorang berada dalam suatu
kelompok. Kelompok pertama adalah rumah, kedua adalah lingkungan luar rumah,
dan seterusnya, yang kesemuanya di luar rumah, bahkan jauh entah di mana,
karena perkembangan wilayah sosialnya.
Pengertian “prasangka” atau “purbasangka”–istilah ini
sangat jarang dipakai, menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah
pendapat
(anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan,
menyelidiki) sendiri; syak.
Yang sering juga disebutkan dengan “syak wasangka”.
Kata “syak”, menurut KBBI, adalah rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). Sedangkan
“wasangka”, masih KBBI, adalah kebimbangan
hati; rasa khawatir; kecurigaan; syak; sangka.
Konon, istilah “prasangka” berasal dari istilah asing,
prejudice. Pada awalnya istilah ini merupakan
sikap rasisme, yang merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang
sebelum memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut.
Selanjutnya prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras,
semisal kelompok tertentu.
Ras adalah kategori individu yang
secara turun temurun memiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu. Pengertiannya tidak berkaitan dengan ciri sosiokultural,
misalnya kebudayaan, adat, dan sejenisnya. Misalnya,
jika menyebut ras Negro, berarti yang dimaksud bukan sifat kebudayaan kelompok
tersebut seperti pandai bermain musik, melainkan ciri fisiknya, seperti warna kulitnya
hitam atau bentuk rambutnya keriting.
Mengenai “prasangka”, “prasangka
sosial”, dan seterusnya dapat dicari melalui mesin pencari semisal Google.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurai “prasangka” berdasarkan definisi
para ahli seakan mengajari ikan hiu menyelam, melainkan sesuai dengan judul “seseorang
adalah prasangka”.
Meski pengertian KBBI mengenai prasangka
cenderung bersifat negatif (kurang baik) dari asal istilah prejudice, pengertian secara umum masih memberi tempat kepada sifat
positif. Tentu saja hal ini dikembalikan pada asal kata “sangka”, yang menurut
KBBI, adalah duga; kira; terka. Tetapi ketika kata “sangka” mendapat imbuhan, bisa berubah
arti (makna; maksud), semisal “tersangka”, yang sudah menjadi negatif, dan masuk
ranah hukum.
Prasangka negatif atau prasangka
positif bisa serta-merta terjadi. Misalnya, ketika seseorang menerima amplop
dari orang lain. Prasangka negatifnya berbunyi, “Seseorang disogok.” Prasangka
positif berbunyi, “Seseorang mendapat surat penting.” Misalnya lagi, ketika
seseorang menyanyi dengan suara merdu di kamar mandi. Prasangka negatifnya, “Seseorang
sedang pamer suara merdunya.” Prasangka positifnya berbunyi, “Seseorang gemar
menyanyi, dan tekun berlatih.”
Lantas, seseorang adalah prasangka,
apa maksudnya?
Pertama,
dalam status kemanusiaan (makhluk sosial), pemikiran seseorang sangat
dipengaruhi bahkan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (bergaul). Pengaruh ini
membuat seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain atau kelompok lain (di
luar lingkup pergaulannya). Artinya, dalam diri seseorang sudah terdapat
prasangka.
Kedua,
seseorang mendapat prasangka dari orang lain ataupun kelompok lain. Apakah
seseorang sedang terlihat secara fisik atau sedang terdengar karena menyanyi,
bahkan malah sedang tidak terlihat atau terdengar pun, seseorang bisa mendapat
prasangka dari orang lain atau kelompok lain.
Ketiga,
seseorang berprasangka terhadap dirinya sendiri. Ini yang juga sering terjadi, semisal
ketika seorang diri di depan cermin, entah sedang bersiap untuk ke mana, entah
pula baru pulang dari mana. Apa nanti prasangka orang lain, bagaimana nanti
prasangka orang lain, mengapa ada prasangka ini-itu, dan seterusnya, merupakan
prasangka yang lazim mengemuka pada dirinya sendiri.
Ketiga hal inilah yang selalu terjadi
sehingga judul tulisan ini “Seseorang adalah Prasangka”. Apakah prasangka
positif-negatif dari dirinya sendiri, pergaulannya (kelompoknya), orang lain,
atau kelompok lain, siapa pun mengalaminya. Bahkan, setelah seseorang meninggal
dunia sekalipun, prasangka justru tetap hidup.
Beginilah realitas sosial di dunia. Ketika
seseorang masih berupa janin dalam kandungan, prasangka sudah lahir terlebih
dulu melalui pendapat orang lain mengenai dirinya. Ketika lahir menjadi
seseorang, prasangka berubah, baik berkurang maupun justru bertambah. Ketika meninggal
dunia bahkan sekian waktu sesudahnya, seseorang masih bisa mendapat prasangka
tambahan. Begitulah prasangka adanya.
*******
Panggung
Renung Balikpapan, 26 April 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar