Kamis, 27 April 2017

Seseorang adalah Prasangka

Seseorang memiliki potensi untuk berprasangka karena setiap orang (manusia) merupakan makhluk sosial (bergaul dengan orang lain). Berprasangka terhadap orang lain, sekelompok orang, bahkan, konyolnya, berprasangka terhadap dirinya sendiri.

Proses terbentuknya prasangka (prejudice) dapat terjadi ketika seseorang berada dalam suatu kelompok. Kelompok pertama adalah rumah, kedua adalah lingkungan luar rumah, dan seterusnya, yang kesemuanya di luar rumah, bahkan jauh entah di mana, karena perkembangan wilayah sosialnya.

Pengertian “prasangka” atau “purbasangka”–istilah ini sangat jarang dipakai, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah  pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak. Yang sering juga disebutkan dengan “syak wasangka”.

Kata “syak”, menurut KBBI, adalah rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). Sedangkan “wasangka”, masih KBBI, adalah kebimbangan hati; rasa khawatir; kecurigaan; syak; sangka.

Konon, istilah “prasangka” berasal dari istilah asing, prejudice. Pada awalnya istilah ini merupakan sikap rasisme, yang merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras, semisal kelompok tertentu.

Ras adalah kategori individu yang secara turun temurun memiliki ciri-ciri fisik dan biologis tertentu. Pengertiannya tidak berkaitan dengan ciri sosiokultural, misalnya kebudayaan, adat, dan sejenisnya. Misalnya, jika menyebut ras Negro, berarti yang dimaksud bukan sifat kebudayaan kelompok tersebut seperti pandai bermain musik, melainkan ciri fisiknya, seperti warna kulitnya hitam atau bentuk rambutnya keriting.

Mengenai “prasangka”, “prasangka sosial”, dan seterusnya dapat dicari melalui mesin pencari semisal Google. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurai “prasangka” berdasarkan definisi para ahli seakan mengajari ikan hiu menyelam, melainkan sesuai dengan judul “seseorang adalah prasangka”.

Meski pengertian KBBI mengenai prasangka cenderung bersifat negatif (kurang baik) dari asal istilah prejudice, pengertian secara umum masih memberi tempat kepada sifat positif. Tentu saja hal ini dikembalikan pada asal kata “sangka”, yang menurut KBBI, adalah duga; kira; terka. Tetapi ketika kata “sangka” mendapat imbuhan, bisa berubah arti (makna; maksud), semisal “tersangka”, yang sudah menjadi negatif, dan masuk ranah hukum.

Prasangka negatif atau prasangka positif bisa serta-merta terjadi. Misalnya, ketika seseorang menerima amplop dari orang lain. Prasangka negatifnya berbunyi, “Seseorang disogok.” Prasangka positif berbunyi, “Seseorang mendapat surat penting.” Misalnya lagi, ketika seseorang menyanyi dengan suara merdu di kamar mandi. Prasangka negatifnya, “Seseorang sedang pamer suara merdunya.” Prasangka positifnya berbunyi, “Seseorang gemar menyanyi, dan tekun berlatih.”

Lantas, seseorang adalah prasangka, apa maksudnya?

Pertama, dalam status kemanusiaan (makhluk sosial), pemikiran seseorang sangat dipengaruhi bahkan dibentuk oleh lingkungan sosialnya (bergaul). Pengaruh ini membuat seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain atau kelompok lain (di luar lingkup pergaulannya). Artinya, dalam diri seseorang sudah terdapat prasangka.

Kedua, seseorang mendapat prasangka dari orang lain ataupun kelompok lain. Apakah seseorang sedang terlihat secara fisik atau sedang terdengar karena menyanyi, bahkan malah sedang tidak terlihat atau terdengar pun, seseorang bisa mendapat prasangka dari orang lain atau kelompok lain.  

Ketiga, seseorang berprasangka terhadap dirinya sendiri. Ini yang juga sering terjadi, semisal ketika seorang diri di depan cermin, entah sedang bersiap untuk ke mana, entah pula baru pulang dari mana. Apa nanti prasangka orang lain, bagaimana nanti prasangka orang lain, mengapa ada prasangka ini-itu, dan seterusnya, merupakan prasangka yang lazim mengemuka pada dirinya sendiri.

Ketiga hal inilah yang selalu terjadi sehingga judul tulisan ini “Seseorang adalah Prasangka”. Apakah prasangka positif-negatif dari dirinya sendiri, pergaulannya (kelompoknya), orang lain, atau kelompok lain, siapa pun mengalaminya. Bahkan, setelah seseorang meninggal dunia sekalipun, prasangka justru tetap hidup.

Beginilah realitas sosial di dunia. Ketika seseorang masih berupa janin dalam kandungan, prasangka sudah lahir terlebih dulu melalui pendapat orang lain mengenai dirinya. Ketika lahir menjadi seseorang, prasangka berubah, baik berkurang maupun justru bertambah. Ketika meninggal dunia bahkan sekian waktu sesudahnya, seseorang masih bisa mendapat prasangka tambahan. Begitulah prasangka adanya.    
    

*******
Panggung Renung Balikpapan, 26 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar