Jumat, 06 Januari 2017

Sebuah Doa yang Hanya Berlaku pada 13 Januari 2017

"Tolong bapak-ibu semua doakan saya supaya bisa mengendalikan diri di debat 13 Januari nanti. Doakan saya agar mulut comberan saya tidak keluar," katanya*.

Logika perkataannya, “Tolong doakan supaya tidak bisa mengendalikan diri sebelum dan setelah debat 13 Januari nanti. Doakan agar mulut comberan tetap meluber sebelum dan setelah debat itu.” Bagaimana, doa (pengendalian diri, dan mulut comberan tidak keluar) untuknya hanya pada waktu, 13 Januari?

Sebelum 13 Januari, berarti, 12, 11, 10, 9, 8, dst., dia (pengendalian diri, dan pemasungan mulut comberan) tidak perlu didoakan alias dibiarkan saja apabila gagal mengendalikan diri, dan mulut comberannya meluber. Dan, setelah 13 Januari, atau 14, 15, 16, 17, 18, dst., dia pun tidak perlu didoakan alias dibiarkan saja apabila gagal mengendalikan diri, dan mulut comberannya meluber.

Atau, sebelum dan setelah debat 13 Januari, perkataannya, "Jangan doakan saya agar tidak bisa mengendalikan diri. Dan jangan doakan saya agar mulut comberan saya bisa keluar."

Patut diduga, doa yang dimintanya itu berlaku hanya pada acara debat, 13 Januari 2017. Sebelum dan setelah 13 Januari itu, dia bebas meliarkan diri dan mulut comberannya meluber-luber, ya, seperti biasalah, dan tidak perlu didoakan apa-apa berkaitan dengan pengendalian diri-mulut comberan.

Doa hanya untuk acara debat, 13 Januari 2017. Tidak perlu doa selain pada acara atau tanggal tersebut. Di luar 13 Januari, biarkanlah mulut comberannya meluber ke mana-mana, dan jangan didoakan.

Begitu kira-kira logika kalimat dari perkataannya, “Tolong bapak ibu semua doakan saya supaya bisa mengendalikan diri di debat 13 Januari nanti. Doakan saya agar mulut comberan saya tidak keluar."

Sebaiknya dia mendatangi pendetanya, dan minta diperbarui, daripada membiarkan mulutnya menjadi mulut comberan pada waktu sebelum dan sesudah acara debat, 13 Januari.
Lho, mengapa?

Yang sangat mungkin terjadi dalam masa kepemimpinannya adalah dia memerintahkan secara langsung melalui mulutnya sendiri kepada para bawahannya (anak buahnya) untuk melakukan hal-hal yang sama dengan air comberan alias melakukan sesuatu yang sama dengan comberan (kotor, bau bahkan busuk, dll.). Perintah yang kotor. Perintah yang busuk. Perintah yang bikin onar, kecuali ada yang menganggap comberan sebagai bagian penting dalam kebutuhan makan-minum sehari-hari.

Ya, sebaiknya dia segera melakukan konsultasi dengan pendetanya. Bagaimana dia mampu mengendalikan pemerintahan daerah, termasuk situasi fisikal dan sosial, dengan baik dan benar jika dia sendiri tidak berdaya mengendalikan diri dan mulutnya sendiri, bahkan dirinya sendiri, ‘kan?

Persoalan utama bukanlah pada mulut tetapi 1) comberan dalam dirinya (jiwa), 2) ketidakberdayaan mengendalikan gejolak dalam diri, dan 3) akhirnya pasti gagal mengendalikan mulutnya. Betul, tidak?

Salomo sudah mengingatkan melalui Amsal 21:23, "Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran." Kesukaran yang terjadi, dan bersifat massif adalah dalam Peristiwa 411 dan 212. Apakah masih kurang sukar? Dan itu semua gara-garanya apa? Kebijakan atas penggusuran? Kebandelan atas reklamasi? Atau, gara-gara Monas diperbolehkan menjadi tempat gantung diri elit politik?

Juga dalam Amsal 21:23, "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." Kali ini bukan ‘merebut’ kota, melainkan Ibukota alias provinsi. Tanpa penguasaan diri, bagaimana nekat minta didoakan hanya untuk 13 Januari?

Kemudian dalam Matius 15: 17-18 Yesus Kristus mengatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.”

Mulut comberan, patut diduga
pula, bukanlah mulutnya yang seperti comberan tetapi comberan itu berasal dari hatinya. Comberan dalam hati itu pun keluar melalui mulutnya.

Dalam Yakobus 3:12 tertulis, “Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”

Bagaimana dengan mata air bersih (sumber air tawar) jika mengeluarkan air comberan? Berarti ada yang tidak beres, ‘kan?

Sebenarnya masih banyak prinsip-prinsip pengendalian diri dan mulut yang tertulis dalam ayat Alkitab, yang sama sekali tidak diindahkan olehnya. Meski sudah menyadari (pakai minta didoakan), tetap saja dia begitu permisif untuk minta doa yang berlaku satu hari (13 Januari), bukannya seterusnya agar dia tidak bertindak semena-mena gara-gara gagal mengendalikan diri dan mulut comberannya.

Oleh karena itu, seperti telah disinggung, sebaiknya dia mendatangi pendetanya, dan minta diperbarui, daripada membiarkan mulutnya menjadi mulut comberan pada waktu sebelum dan sesudah acara debat, 13 Januari. Pengendalian diri dan mulut comberan tidaklah cukup hanya terjadi pada acara debat, 13 Januari 2017. Melainkan pula lebih luas jangkauan waktunya.

Mendatangi pendetanya, atau gembala di tempatnya beribadah, tentu saja, merupakan alamat konsultasi (konseling) yang tepat. Tidak perlu menggunakan pesawat terbang, yang bakal menyita sedikit APBD. Itu pun kalau saja dia tidak merasa dirinya lebih pintar-cerdas dibanding pendetanya lho, ya?

Bagaimana? Mudah, dan sederhana, ‘kan?

*******
Panggung Renung Balikpapan, 5 Januari 2017


*) https://www.merdeka.com/jakarta/ahok-doakan-agar-mulut-comberan-saya-tidak-keluar-saat-debat.html?fb_comment_id=fbc_1448448085196013_1449995318374623_1449995318374623

Tidak ada komentar:

Posting Komentar