Senin, 02 Januari 2017

Kalender Masehi dan Kelahiran Indonesia

Selamat Tahun Baru 2017 Masehi

Selama satu dekade, dalam amatan saya, ada sekelompok orang di Indonesia yang alergi terhadap kalender Masehi, di samping perayaan tahun baru yang asalnya begini-begitu. Kelompok tersebut, tentunya, memulai hidup setelah sekian puluh tahun kemerdekaan Indonesia.

Saya gagal memahami (istilah kekinian : “gagal paham”) mengenai pendidikan kelompok tersebut. Lho, kok pendidikan?

Lho, iya dong. Kalau kelompok itu berpendidikan di Indonesia, tentunya lucu kalau alergi pada kalender Masehi. Padahal sebagian besar orang Indonesia tidaklah alergi pada kalender Jawa, Sunda, Bali, dan lain-lain, bahkan Hijriyah, Saka, ataupun China, dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini.

Pertanyaan paling dasar secara individual dulu deh. Akte kelahiran menggunakan kalender apa? Peringatan hari lahir (birthday) menggunakan kalender apa? Dan, era media jejaring sosial selama satu dekade ini menampilkan hari lahir yang kemudian dilimpahi segala ucapan-doa, menggunakan kalender apakah?

Pertanyaan berikutnya, berkaitan dengan pendidikan. Kalender apakah yang dipakai dalam setiap berkas atau dokumen, semisal untuk masuk PAUD atau TK, yang berkaitan dengan pendidikan? Teks Proklamasi Kemerdekaan pasti pernah diajarkan, dan memakai kalender apakah? Ada lagu kebangsaan Indonesia yang diajarkan sebagai upaya memupuk semangat berbangsa-bertanah air dengan jelas menyebutkan angka, bulan, dan tahun berdasarkan kalender apakah?

Atau simak kembali lagu “Hari Merdeka” karya H. Mutahar sebelum mengalami ingatan lumpuh secara sengaja maupun tidak sengaja.

Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

Dengan lagu itu pun saya tidak perlu bertanya lagi. Intinya, sejak Indonesia merdeka, dan segala dokumen kedaulatan bangsa-negara yang dibuat oleh para pendiri Bangsa Indonesia menggunakan kalender Masehi.

Kelompok orang, yang merupakan warga negara Indonesia, seyogyanya sadar diri (mawas diri) bahwa inilah Indonesia, tanah lahir dan tempat berpijak secara nyata, yang sejak semula dibentuk menggunakan kalender Masehi. Lagu tadi pun sudah jelas sampai lirik terakhirnya, Membela negara kita.

Nah, mereka bukanlah pembentuk dan pendiri Indonesia, bagaimana bisa mengalami alergi pada kalender Masehi yang dipakai pula untuk kemerdekaan-kedaulatan Indonesia? Alerginya karena apa, sih, sebenarnya? 

Dan, barangkali, sekian waktu mereka berpikir, bagaimana menggantikan kalender Masehi yang dipergunakan oleh negara. Lho, mengapa harus repot berpikir sampai kelak botak seperti saya?

Saran terbaik saya untuk kelompok tersebut, begini. Daripada alergi tetapi kealergian itu justru merusak iklim persatuan NKRI lebih baik pindah ke negara lain, yang menggunakan kalender bukan Masehi, misalnya kalender Mesir, Maya, China, Jepang, dan kalender-kalender dunia selain Masehi. Berikutnya, ganti tanggalan di seluruh dokumen, dari akte kelahiran, rapor atau dokumen pendidikan, hingga dokumen apa pun terkini dengan kalender pilihan sesuai dengan keinginan sendiri. 

Bagaimana saran saya? Lebih mudah-sadar kenyataan, yang tanpa harus mengalami kebotakan, ‘kan?    

*******

Panggung Renung Balikpapan, 2 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar