Rabu, 04 Januari 2017

Labilitas Listrik di Gerbang 2017

Tadi malam, sekitar pukul 11.00, listrik di rumah ataupun wilayah RT kami padam. Menurut amatan saya, terakhir listrik padam sebelum 25 Desember 2016.

Sementara seorang kawan di Balikpapan menulis status medsosnya, “Ada yg tahu klinik yg bs ngobatin pln ngga ya....nyala nya mulai berkedip kedip per jam eeeeeeehhhhhhh... .” Sebelumnya, 2 Januari, ia menuliskan, “Terima kasih pln kau menengahi hari ini dgn pemadaman mu...semoga tahun ini lebih baik dr tahun kemarin...padamin setahun sekalian nah biar kelahi aja kita. Agghhhhhh.”

Inilah listrik padam di awal 2017. Dan, sebenarnya, saya bosan menulis mengenai listrik padam alias listrik labil, yang dikelola oleh salah satu BUMN tersebut. Tapi, mengapa sekarang saya menuliskannya lagi?

Pada Selasa, 3 Januari 2017, di Istana Merdeka Presiden Jokowi berkata, “Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu.”*

Katanya lagi, Indonesia perlu belajar dari kemajuan perusahaan milik negara di Uni Emirat Arab (UEA). Perusahaan BUMN di negara itu pada awalnya dipimpin oleh orang-orang Eropa, karena fakta menunjukkan orang-orang kulit putih sudah lama memahami dan menguasai dunia bisnis secara modern. Namun sejak 1975, secara bertahap CEO perusahaan-perusahaan itu dipegang oleh orang-orang UEA yang belajar dari orang-orang asing tersebut atau yang telah belajar di luar negeri, sehingga kemudian perusahaan-perusahaan milik negara mengalami kemajuan pesat.

“Jadi, intinya,” kata Jokowi, “bisa saja orang-orang bule untuk sementara memimpin dan mengelola beberapa perusahaan BUMN agar perusahaan-perusahaan itu mengalami kemajuan secara pesat, tapi kepemilikannya tetap. Perusahaan-perusahaan BUMN harus tetap milik negara.”

Saya mengaitkannya dengan tempat tinggal saya saat ini. Balikpapan mendapat julukan luar biasa. “Kota Cerdas” (Smart City). “Kota Internasional”. “Kota Nyaman Huni”. “Kota Paling Dicintai Dunia”. Entah apa lagi julukan hebat lainnya.

Dan, saya mengaitkannya pula dengan keberadaannya di Kalimantan Timur (Kaltim). Kaltim mendapat predikat “Provinsi Terkaya di Indonesia”. Para elit Kaltim pun pernah menuntut status otonomi khusus untuk Kaltim karena kekayaannya.

Ironisnya, di Kota Minyak dan Provinsi Terkaya ini listriknya sering mengalami labilitas daya. Apakah selama puluhan tahun berkubang kekayaan lantas tidak mampu membeli alat pembangkit listrik yang memadai? Lagi, bukankah selama ini listrik dikelola oleh PLN? Bukankah PLN merupakan bagian dari BUMN? Sudah tidak berdayakah para pengelola BUMN?

Jadi, intinya --- meniru perkataan Jokowi, listrik, PLN, dan BUMN merupakan satu-kesatuan. Para pengelolanya, selama ini, adalah orang-orang Indonesia sendiri. Tetapi, dengan realitas nyala-padam yang sering terjadi, bahkan di provinsi terkaya, bukan tidak mungkin perkataan Jokowi, khususnya berkaitan dengan istilah “orang bule”, sewajibnya menjadi kritik bahkan teguran yang memalukan bagi kita, orang-orang yang bangga menjadi peribumi alias bumiputera.

Akhirnya kembali pada saya, dan kawan saya tadi, merupakan pelanggan PLN. Secara pribadi, saya tidak bisa melihat siapa, entah peribumi ataupun orang bule, yang kelak pengelola BUMN. Yang selalu menjadi penting bahkan darurat adalah listrik menyala karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, dan hanya itu yang paling jelas terlihat.

Itu saja. Mudah dan sederhana, ‘kan?

*******
Panggung Renung, 4 Januari 2017


*) https://www.merdeka.com/uang/presiden-jokowi-buka-pintu-pekerja-asing-jadi-bos-bumn.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar