Malam Tahun Baru 2017–dalam tulisan ini
Tahun Baru Masehi, atau ujung malam tahun 2016 kemarin, seperti juga malam
tahun baru sebelumnya, merupakan malam ‘peperangan’ di sekitar rumah kami.
Kalau pada sore diawali dengan letusan petasan dari sebuah rumah tetangga
belakang Panggung Renung, lantas malamnya disusul oleh dentuman kembang api
sekaligus buraian menyala dari berbagai arah.
Saya kaget begitu mengetahui dua anjing
kami pun ketakutan (berdebar-debar, dan ngos-ngosan). Di Panggung Renung seekor
anjing kami sibuk menggaruk-garuk pintu belakang. Saya sangat terganggu, lalu
pindah ke Beranda Khayal. Di sana seekor anjing lainnya bersimpuh dengan
berdebar-debar dan ngos-ngosan. Baru satu kali itu saya melihat keduanya ketakutan. Mungkin karena
keduanya mengira perang dunia ke-3 sedang terjadi seperti ramalan orang-orang
yang sampai ke telinga anjing kami.
Tetapi saya sudah berdamai dengan situasi
malam Tahun Baru. Mengenai kembang api dan petasan Tahun Baru, telah saya tulis
dalam buku Belajar Peta Indonesia
(Abadi Karya, 2016). Ya, secara pribadi, saya tidaklah akrab dengan kembang api
pada malam Tahun Baru.
Secara umum, kembang api dan malam Tahun
Baru memang sudah menjadi saudara kembar, entah sudah berapa puluh tahun, siapa
bidan yang menangani persalinannya, dan di mana peristiwa persalinan terjadi. Yang
saya tahu, ibu si kembar adalah dunia.
Di Beranda Khayal, dengan ngos-ngosan di moncong
anjing dan dentum di sekeliling langit atas rumah, saya sudah bisa
mengendalikan diri saya untuk tidak menyoalkan apa-apa mengenai perkembaran
antara Tahun Baru dan kembang api, meskipun atap seng rumah kami mengalami kerontokan
kembang api yang diledakkan oleh tetangga pada pukul 21.00-an.
Pukul 21.00-an, yang belum di dekat tengah
malam? Ya, begitulah. Beberapa tetangga sudah tidak sabar untuk menyulut sumbu
kembang api. Hal yang biasa saja alias sama seperti tahun sebelumnya.
Saya tetap berada di Beranda Khayal sampai
terdengar suara sirine dari arah Jalan A. Yani sekitar pukul 23.45. Mendadak
saya berpikir, itu sirine mobil damkar-kah, bukannya mobil ambulan atau patroli
keamanan.
Sekejap pikiran itu lenyap, berganti
dengan berpikir positif. Situasi aman, dan terkendali untuk Malam Tahun Baru
ini. Apalagi gelegar kembang api kian menjadi-jadi hingga menjelang pukul
01.00. Semoga bukan gelegar bom maut sebab akhir 2016 berita seputar aksi
teroris cukup mengusik rasa nyaman-aman saya setelah sebuah bom molotov meledak
di depan Gereja Oikumene, Samarinda pada Minggu, 13 November 2016.
Tetap berpikir positif, bukankah itu baik?
Tetapi juga, mengenai kembang api yang berbahan dasar mesiu semacam itu memang
sering merecoki pikiran saya hingga muncul pikiran negatif, di luar berita aksi
teroris. Misalnya ledakan di rumah pengepul kembang api, mobil pembawa kembang
api, dan lain-lain, termasuk korban dengan kondisi yang begini-begitu. Benar-benar
horor bisa datang mendadak, jika membiarkan pikiran ke arah negatif.
Betapa tidak horor. Ada satu benda yang
sudah menjadi kawan kembang api, dan paling sering merecoki pikiran saya. Benda
tersebut berbentuk sebundaran balon lampu atau balon karet berbahan bakar gas.
Benda itu perlahan-lahan terbang, dan mengikuti ke mana saja arah angin.
Saya melihat benda itu dari Beranda
Khayal. Warnanya merah. Yang terbayang dalam benak saya adalah benda yang seolah
hamil api itu tiba-tiba hinggap di suatu tempat berisi bahan-bahan mudah
meledak atau terbakar. Betapa horornya!
Saya tidak percaya bahwa benda itu sejenis
pesawat makhluk luar angkasa alias UFO (Unidentified
Flying Object). Juga tidak percaya benda mistik bernama braja atau banaspati, atau suatu ritual santet. Kemungkinan mirip lampion
terbang seperti dalam tradisi Tionghoa. Atau, mungkin, bola api yang biasa
dipakai sebagai penanda situasi darurat di tengah laut.
Apa pun bola api bikinan manusia semacam
itu, tentu saja, sangat berisiko. Ingat, bola api. Bukan bola karet, bola
plastik, atau bola bolu. Bagaimana seandainya bola api itu mendadak turun alias
jatuh di lingkungan padat hunian… Ah! Horor banget deh.
Mending berpikir positif, ‘kan? Misalnya
orang-orang bersuka ria pada malam Tahun Baru. Bisnis kuliner mendapat
keuntungan besar, yang pasti berimbas pada anak buah pengelolanya, bahkan
petani jagung. Orang-orang kaya mau menyisihkan uang untuk membeli petasan,
kembang api, dan terompet yang diperdagangkan secara mendadak di pinggir jalan. Dan lain-lain. Alhasil, semua orang itu berbahagia
dengan adanya malam Tahun Baru.
Semua orang itu berbahagia. Titik. Saya
harus sadar diri (berlatar ekonomi keluarga penuh perhitungan, dan kampung
halaman yang sangat pelosok di Bangka), dan menambah kadar kompromi-toleransi. Toh letusan dan ledakan semacam itu
biasa juga terjadi pada malam Idul Fitri, ulang tahun kota, dan lain-lain. Saya
bertahan di Beranda Khayal hingga azan Subuh berkumandang dari toa beberapa
masjid.
Sekitar siang, 1 Januari 2017, barulah
saya mendengar kabar mengenai sirine tadi malam. Ada berita di Tribunnews Kaltim berjudul Kembang Api, Rumah Jabatan Kapolda Terbakar.
Juga Antaranews menuliskan judul
beritanya, Rumah Dinas Kapolda Terbakar
Kena Kembang
Api.
Saya cuplik dari Tribunnews Kaltim saja. Bertepatan dengan malam pergantian tahun baru, rumah jabatan
Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengalami
kebakaran.
Kejadian
ini berlangsung saat masyarakat ramai menyalakan kembang api sekitar pukul 00.00 Wita. Peristiwa ini di kawasan rumah dinas Polda yang ada di bilangan
Jalan Jendral Sudirman, atau depan persis Rumah Sakit Pertamina Kota Balikpapan,
Minggu (1/1/2017).
Dugaan
sementara, berdasarkan kesaksian seorang anggota kepolisian yang menjaga rumah
dinas itu, kebakaran diakibatkan percikan atau letupan kembang api jatuh ke atap rumah dinas.
"Ada
asap mengebul dari atap. Langsung saja telepon mobil pemadam kebakaran,"
ungkap anggota kepolisian yang enggan disebutkan
namanya.
Ternyata berpikir positif harus tetap
mengindahkan kemungkinan negatif yang bisa terjadi di luar kebiasaan. Pepatah
ngawur pernah berpetuah, “Dalam kembang api dapat diduga tetapi dalam hati
penyulutnya, siapakah yang tahu?” Artinya, kewaspadaan tetap menjadi penting
karena bahan utama kembang api bukanlah kembang melati ataupun kembang gula.
*******
Panggung Renung, 2 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar