Senin, 02 Januari 2017

Satu Ulah Kembang Api pada Malam Tahun Baru 2017

Malam Tahun Baru 2017–dalam tulisan ini Tahun Baru Masehi, atau ujung malam tahun 2016 kemarin, seperti juga malam tahun baru sebelumnya, merupakan malam ‘peperangan’ di sekitar rumah kami. Kalau pada sore diawali dengan letusan petasan dari sebuah rumah tetangga belakang Panggung Renung, lantas malamnya disusul oleh dentuman kembang api sekaligus buraian menyala dari berbagai arah.

Saya kaget begitu mengetahui dua anjing kami pun ketakutan (berdebar-debar, dan ngos-ngosan). Di Panggung Renung seekor anjing kami sibuk menggaruk-garuk pintu belakang. Saya sangat terganggu, lalu pindah ke Beranda Khayal. Di sana seekor anjing lainnya bersimpuh dengan berdebar-debar dan ngos-ngosan. Baru satu kali itu saya melihat keduanya ketakutan. Mungkin karena keduanya mengira perang dunia ke-3 sedang terjadi seperti ramalan orang-orang yang sampai ke telinga anjing kami.

Tetapi saya sudah berdamai dengan situasi malam Tahun Baru. Mengenai kembang api dan petasan Tahun Baru, telah saya tulis dalam buku Belajar Peta Indonesia (Abadi Karya, 2016). Ya, secara pribadi, saya tidaklah akrab dengan kembang api pada malam Tahun Baru.

Secara umum, kembang api dan malam Tahun Baru memang sudah menjadi saudara kembar, entah sudah berapa puluh tahun, siapa bidan yang menangani persalinannya, dan di mana peristiwa persalinan terjadi. Yang saya tahu, ibu si kembar adalah dunia.

Di Beranda Khayal, dengan ngos-ngosan di moncong anjing dan dentum di sekeliling langit atas rumah, saya sudah bisa mengendalikan diri saya untuk tidak menyoalkan apa-apa mengenai perkembaran antara Tahun Baru dan kembang api, meskipun atap seng rumah kami mengalami kerontokan kembang api yang diledakkan oleh tetangga pada pukul 21.00-an.

Pukul 21.00-an, yang belum di dekat tengah malam? Ya, begitulah. Beberapa tetangga sudah tidak sabar untuk menyulut sumbu kembang api. Hal yang biasa saja alias sama seperti tahun sebelumnya.

Saya tetap berada di Beranda Khayal sampai terdengar suara sirine dari arah Jalan A. Yani sekitar pukul 23.45. Mendadak saya berpikir, itu sirine mobil damkar-kah, bukannya mobil ambulan atau patroli keamanan.  

Sekejap pikiran itu lenyap, berganti dengan berpikir positif. Situasi aman, dan terkendali untuk Malam Tahun Baru ini. Apalagi gelegar kembang api kian menjadi-jadi hingga menjelang pukul 01.00. Semoga bukan gelegar bom maut sebab akhir 2016 berita seputar aksi teroris cukup mengusik rasa nyaman-aman saya setelah sebuah bom molotov meledak di depan Gereja Oikumene, Samarinda pada Minggu, 13 November 2016.

Tetap berpikir positif, bukankah itu baik? Tetapi juga, mengenai kembang api yang berbahan dasar mesiu semacam itu memang sering merecoki pikiran saya hingga muncul pikiran negatif, di luar berita aksi teroris. Misalnya ledakan di rumah pengepul kembang api, mobil pembawa kembang api, dan lain-lain, termasuk korban dengan kondisi yang begini-begitu. Benar-benar horor bisa datang mendadak, jika membiarkan pikiran ke arah negatif.

Betapa tidak horor. Ada satu benda yang sudah menjadi kawan kembang api, dan paling sering merecoki pikiran saya. Benda tersebut berbentuk sebundaran balon lampu atau balon karet berbahan bakar gas. Benda itu perlahan-lahan terbang, dan mengikuti ke mana saja arah angin.

Saya melihat benda itu dari Beranda Khayal. Warnanya merah. Yang terbayang dalam benak saya adalah benda yang seolah hamil api itu tiba-tiba hinggap di suatu tempat berisi bahan-bahan mudah meledak atau terbakar. Betapa horornya!

Saya tidak percaya bahwa benda itu sejenis pesawat makhluk luar angkasa alias UFO (Unidentified Flying Object). Juga tidak percaya benda mistik bernama braja atau banaspati, atau suatu ritual santet. Kemungkinan mirip lampion terbang seperti dalam tradisi Tionghoa. Atau, mungkin, bola api yang biasa dipakai sebagai penanda situasi darurat di tengah laut.

Apa pun bola api bikinan manusia semacam itu, tentu saja, sangat berisiko. Ingat, bola api. Bukan bola karet, bola plastik, atau bola bolu. Bagaimana seandainya bola api itu mendadak turun alias jatuh di lingkungan padat hunian… Ah! Horor banget deh.

Mending berpikir positif, ‘kan? Misalnya orang-orang bersuka ria pada malam Tahun Baru. Bisnis kuliner mendapat keuntungan besar, yang pasti berimbas pada anak buah pengelolanya, bahkan petani jagung. Orang-orang kaya mau menyisihkan uang untuk membeli petasan, kembang api, dan terompet yang diperdagangkan secara mendadak di pinggir jalan.  Dan lain-lain. Alhasil, semua orang itu berbahagia dengan adanya malam Tahun Baru.

Semua orang itu berbahagia. Titik. Saya harus sadar diri (berlatar ekonomi keluarga penuh perhitungan, dan kampung halaman yang sangat pelosok di Bangka), dan menambah kadar kompromi-toleransi. Toh letusan dan ledakan semacam itu biasa juga terjadi pada malam Idul Fitri, ulang tahun kota, dan lain-lain. Saya bertahan di Beranda Khayal hingga azan Subuh berkumandang dari toa beberapa masjid.  

Sekitar siang, 1 Januari 2017, barulah saya mendengar kabar mengenai sirine tadi malam. Ada berita di Tribunnews Kaltim berjudul Kembang Api, Rumah Jabatan Kapolda Terbakar. Juga Antaranews menuliskan judul beritanya, Rumah Dinas Kapolda Terbakar Kena Kembang Api.

Saya cuplik dari Tribunnews Kaltim saja. Bertepatan dengan malam pergantian tahun baru, rumah jabatan Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengalami kebakaran.
Kejadian ini berlangsung saat masyarakat ramai menyalakan kembang api sekitar pukul 00.00 Wita. Peristiwa ini di kawasan rumah dinas Polda yang ada di bilangan Jalan Jendral Sudirman, atau depan persis Rumah Sakit Pertamina Kota Balikpapan, Minggu (1/1/2017).

Dugaan sementara, berdasarkan kesaksian seorang anggota kepolisian yang menjaga rumah dinas itu, kebakaran diakibatkan percikan atau letupan kembang api jatuh ke atap rumah dinas.
"Ada asap mengebul dari atap. Langsung saja telepon mobil pemadam kebakaran," ungkap anggota kepolisian yang enggan disebutkan namanya.

Ternyata berpikir positif harus tetap mengindahkan kemungkinan negatif yang bisa terjadi di luar kebiasaan. Pepatah ngawur pernah berpetuah, “Dalam kembang api dapat diduga tetapi dalam hati penyulutnya, siapakah yang tahu?” Artinya, kewaspadaan tetap menjadi penting karena bahan utama kembang api bukanlah kembang melati ataupun kembang gula.

*******
Panggung Renung, 2 Januari 2017 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar